15 Mei 2011

HOTEL PRO DEO

Setelah hampir 3 bulan berusaha menyelesaikan (membaca) novel ini, akhirnya selesai juga!!!! The end.

Siapa yang tidak kenal Remy Sylado? Tapi kalaupun ada yang tidak tahu siapa beliau, ngga apa-apa juga siy. Karena saya pada awalnya cuma tahu Remy Sylado penulis Indonesia, berambut putih, pernah ditangkap karena kritis terhadap pemerintah, dan seorang sastrawan. Setelah google-ing siapa beliau, rupanya penilaian saya tidak salah.
Kesan pertama kali yang muncul ketika membaca novel pertama Remy Sylado yang saya baca, adalah .... Terkesan. Oleh betapa Indonesia-nya penulis yang satu ini, tanpa mengecilkan penulis Indonesia lain yang bukan berarti tidak orisinil asli Indonesia. Penggunaan diksi (baca: pilihan kata) kental sekali aroma Indonesia untuk mengartikan (atau sekedar mengeja) beberapa kata dari bahasa asing dan menggunakan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Macho menjadi maco, 'pringsilan' , 'rahib', 'resi', 'diwasangkai', 'ikhtiar zindik', 'menjeb' , dan lain sebagainya, yang saya sendiri kurang begitu paham apa artinya. Atau, kata istilah beberapa ahli bahasa, disebut sebagai Munsyi (sumber: wikipedia). Tanpa menjadikan novel ini sebagai karya sastra njlimet dan terjangkau oleh otak-otak dengan kemampuan pentium 4 seperti saya. Saya memang belum pernah membaca karya-karya beliau sebelumnya. Dan semoga memang karya-karya yang lain juga tidak se-njlimet karya sastrawan yang umumnya terlalu mendakik-dakik, atau bikin kepala pusing tujuh keliling.

Kesan kedua terhadap novel ini, takjub. Dengan jalan cerita dan pemilihan latar situasi yang terasa orisinalitas mengenai data, sebutan jumlah, atau angka. Hotel Pro Deo memilih latar situasi peristiwa '98, dan mengangkat isu rasis, politik kala itu, menambah bumbu drama keluarga yang sebenarnya tidak terlalu spesifik berbeda dengan intrik drama-drama lainnya. Menjadi spesial karena (sepemahaman saya) situasi yang diangkat begitu nyata. Sekali lagi mengutip informasi pada situs Wikipedia mengenai Remy Sylado, kekuatan penulisan karya-karyanya memang didasarkan pada hasil riset data yang akurat, yang saya sendiri belum pernah membaca karya fiksi yang begitu detil. Hanya saja pada beberapa bagian memang akan terasa agak sedikit 'lebay' (Maafkan saya kalau mendadak menjadi sok komentatoris mengenai tulisan beliau). Sebagai awam, dan mencoba berpikir jauh lebih sederhana, ada kalanya di beberapa bagian, Remy menuliskan mengenai isu penting tentang rasialisme era '98, yang tidak terkait sedilit pun dengan latar cerita yang sedang ditulis. Misal, dengan latar cerita di sebuah sidang pengadilan kasus kriminal yang dialami tokoh antagonisnya, mendadak muncul baris kalimat yang mengangkat isu rasis yang memang sebetulnya diceritakan dalam novel tersebut. Tapi di-logika-kan pun (berdasar dari runtutan kejadian fiksi sebelumnya), tidak bisa ditarik benang merah dengan isu kriminalitas yang coba diungkap. Kalau saya bilang siy, mungkin ini 'curhat' atau opini Remy mengenai isu terkait. Tidak salah dan tidak jelek, hanya saja dua paragraf panjang mengurai opini yang tidak terkait dengan latar cerita, menjadi tidak penting dan pemborosan paragraf. Mungkin juga begitu ciri penulis angkatan lama semodel beliau, kritik sosial, isu politik, ras, dan kriminalitas tetap menjadi bumbu fiksi namun nyata adanya.

4 Mei 2011

DON’T KILL THEM!!

First of all … would like to thank to Oprah Winfrey as one of the most influence woman in the world yang mengangkat tema ini di salah satu episode talkshow “Oprah show” setahun yang lalu. Meskipun sebenarnya isu ini sudah setahun yang lalu, tapi tidak begitu yakin juga kalau kenyataan di lapangan sudah bisa diatasi. Latar belakang pemilihan topik posting kali ini didasari oleh sebuah episode Oprah Winfrey Show beberapa minggu yang lalu, bertepatan dengan Earth day atau kalau di Indonesia lebih dikenal dengan Hari Bumi. Saya yang biasanya suka lupa dengan jam tayang talkshow ini entah kenapa kali itu tepat memilih channel televisi nasional yang memang menayangkan acara tersebut pada jam yang tepat pula. Setelah sneak peak sejenak ke situs tersebut, ternyata episode tersebut merupakan episode masih terkait dengan peringatan Hari Bumi, namun dalam periode waktu setahun yang lalu. Betapa telatnya berita ini sampai ke Indonesia, itu yang saya pikirkan. Tapi tidak ada yang terlambat untuk berita yang penting.

Seluruh dunia pasti paham Jepang adalah salah satu negara dengan konsumsi ikan terbesar di dunia, eh kalau yang ini siy asumsi saya (baca: belum riset hehehe). Didasarkan pada setiap restaurant Jepang yang memang menyuguhkan makanan berbahan dasar ikan laut atau seafood. Dan mungkin tidak hanya Negara Jepang saja yang begitu, wilayah-wilayah disekitarnya seperti China, Taiwan, bisa juga kita asumsikan seperti itu. Yahh … sederhananya bangsa serumpun itu memang doyan banget sama ikan-ikan an. Tapi pernahkah kita membayangkan kalau beberapa orang diluar sana (tanpa menyebutkan salah satu negara atau bangsa), juga mengkonsumsi daging lumba-lumba?? Shocked, itu yang pertama saya rasakan ketika melihat episode Oprah show kali itu. Sebenarnya kali itu Oprah mengundang tamu-tamu pemenang Oscar untuk kategori film dokumenter yang menceritakan pembunuhan lumba-lumba besar-besaran yang terjadi di Teluk Taiji, JepangTaiji Bay. Mendadak saja pembicaraan tidak penting lagi soal bagaimana film itu sebenarnya, melainkan isu terpenting yang harus kita ketahui sebagai bagian dari civil society. Pembantaian itu memang terjadi dan memang disahkan oleh pemerintah Jepang dalam batas tertentu. Saya kurang paham juga bagaimana aturan atau ketentuan mengenai batas maksimum dalam penangkapan ikan di laut. Sedikit yang saya pernah dengar di beberapa negara memang ada aturan tegas mengenai jenis ikan apa saja yang boleh ‘naik ke permukaan’ untuk dikonsumsi termasuk jumlah dan batas maksimum bobot ikan. Semua itu saya yakin ditentukan untuk menjaga kelestarian atau paling tidak memberikan kesempatan bagi ikan-ikan di laut untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Tidak terbayang saja ikan seumur jagung sudah boleh dikonsumsi (kalaupun bisa), mana penerus bangsanya???

Kalau soal menangkap saja sudah ada aturan pada consumable fish, apalagi untuk spesies ikan yang termasuk dalam spesies langka dan memang bukan untuk konsumsi?? Menangkap saja sudah salah, apalagi membunuh?? Web situs ini yang perlu teman-teman semua lihat. Buat anda yang memang seangkatan dengan saya (hehehe), perlu sedikit mengeluarkan referensi film yang pernah ditonton dimasa kecil dulu. Flipper. Film seri televisi tentang lumba-lumba yang friendly dengan manusia dibuat tahun 1964 dan dibuat ulang pada tahun 1996 dibintangi oleh Elijah Wood. Percaya atau tidak, Flipper memang benar-benar ada dan dilatih oleh pelatih lumba-lumba profesional dan menjadi salah satu hewan pertunjukkan pada tempat hiburan safari lainnya. Flipper versi tahun 1964 diperankan oleh lumba-lumba betina bernama Kathy dan dilatih oleh pelatih lumba-lumba profesional Ric O’Barry, yang setelah kematian Kathy beberapa tahun kemudian memutuskan tidak lagi menjadi pelatih profesional melainkan menjadi aktivis perlindungan lumba-lumba. Sosok O’Barry inilah yang menggaungkan berita pembunuhan lumba-lumba di Jepang seperti yang bisa kita lihat pada film dokumenter yang dibuatnya bersama beberapa rekan dan berhasil memenangkan Oscar untuk kategori film dokumenter terbaik tahun 2010 lalu.

Ric O'BarryShe was really depressed … You have to understand dolphins and whales are not (involuntary) air breathers like we are. Every breath they take is a conscious effort. They can end their life whenever. She (Kathy/Flipper) swam into my arms and looked me right in the eye, took a breath and didn’t take another one. I let her go and she sank straight down on her belly to the bottom of the tank. – Ric O’Barry on Oprah’s interview

2 Mei 2011

ANALOGI KACAU

NATO dan POLSEK.

Sebenarnya tidak ada hubungan antara keduanya. Kesamaan apalagi. Tidak pula bisa dibandingkan antara NATO dan POLSEK. Tapi untuk kali ini, secara sederhana bisa terlihat kesamaan peran dan fungsi meskipun dengan berbeda latar kejadian.

North Atlantic Treat Organization atau yang biasa kita kenal dengan NATO singkatnya merupakan aliansi negara-negara di sekitar Samudera Atlantik utara (keanggotaan ditetapkan berdasarkan perjanjian/treaty) sepakat untuk bekerja sama dalam bidang militer dan politik. Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya bagi pakar/ahli politik atau militer kalau ada pemilihan kata saya kurang berkenan, karena setelah membuka web situs NATO kok ya agak ribet yah istilah-istilahnya (blame it on TOEFL score yang ngga nyampe 500!!!). Dengan pemahaman terbatas dan super cetek dari otak saya, kurang lebih saya mengibaratkan NATO sebagai genk negara-negara atlantik utara atau semacam ASEAN gitu, dibentuk agar lebih kompak, solid antara tetangga kanan kiri, dan eksis diantara negara-negara di dunia (lagi-lagi ini bahasa saya). Dan sebagai sektor kehidupan yang cukup penting antar negara dan mempertaruhkan keutuhan sebuah negara, dipilihlah bidang politik dan militer sebagai dasar pembentukan kerjasama. Sama-lah seperti ASEAN, dibentuk untuk mempermudah pergerakan regional antar negara Asia Tenggara di berbagai bidang yang notabene masih di-klaim sebagai negara berkembang.

Terakhir yang saya ingat terkait dengan organisasi ini adalah beberapa tahun lalu ketika saya masih duduk di jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) dalam pelajaran sejarah tentang mengapa negara kita, Indonesia, tidak masuk sebagai bagian dari negara anggota NATO atau SEATO. Khusus yang SEATO memang tidak terlalu banyak terdengar suaranya, karena memang organisasi ini berakhir di tahun 1977 (koreksi jika saya kurang tepat). SEATO dibentuk semodel dengan NATO hanya dengan negara anggota yang berbeda. SEATO beranggotakan negara-negara South East Asia atau Asia Tenggara, tapi yang sedikit aneh, Amerika juga masuk sebagai negara anggota. Eksis sekali ‘tuh Paman Sam. Kenapa negara kita tidak memilih menjadi anggota keduanya, katanya karena negara kita menganut politik bebas aktif. Tidak memihak salah satu pihak, let’s say north or south, namun tetap aktif dalam perdamaian dunia. Dan isu terhangat yang paling sering kita dengar sekarang ini tentang serangan NATO di beberapa wilayah Libya, tentunya terkait proses demokrasi yang terjadi disana, serupa dengan peristiwa 1998 di negara kita tentang pelengseran presiden Soeharto yang sudah hampir 32 tahun sebagai RI 1. Lebih parah lagi yang terjadi dengan negara di tanah Afrika ini, Presiden Ghadafi menjabat sebagai orang nomer wahid di Libya selama hampir 42 tahun. Wajar ketika warga menjadi gerah, galau, ketika nasib mereka stagnan, terkungkung dengan aturan ditaktoritas pemimpin mereka, dan tidak bisa menyuarakan apa yang ingin mereka katakan. Kita sebagai bagian dari Indonesia pernah melalui itu, masa dimana kita begitu ‘takut’ untuk berkata Z sementara negara berkata A. Dan ketika kejenuhan kepatuhan itu sampai di ubun-ubun, itulah yang terjadi. Kakak-kakak mahasiswa kala itu benar-benar menjadi agent of change yang memiliki kekuatan mutlak dan sah sebagai squad atau troopers terdepan menyuarakan apa yang menjadi bahan pemikiran terpendam. Sebagai anak sekolahan yang belum paham soal politik dan kekuasaan (begitu juga hingga sekarang), barangkali semua hot temper di ibukota tidak terasa di Surabaya karena jujur saja situasi di Surabaya cenderung aman dan terkendali, meskipun saya tetap yakin kakak-kakak mahasiswa di belahan Jawa Timur mana pun terusik juga dengan ketidak adilah era itu dan mungkin turut memperjuangkan aspirasi di ibukota. Semenjak itu semakin yakin, kota kelahiran saya ini benar-benar barometer keamanan negara yang sesungguhnya. Kalau Surabaya mulai kacau, maka keamanan negara kacau pula. Sebaliknya, Surabaya terkendali, negara hanya sedang melalui kerikil-kericil kecil dalam perjalanan (baca: pendewasaan)-nya. Ahhh … sok politis saya di paragraf ini !!!

NATO_Cooperations_Partners

NATO

SEATO2

SEATO

*) anggota NATO berwarna biru *) anggota SEATO berwarna ungu

Ini yang sebenarnya yang ingin saya bagi. Analogi militerisasi yang beberapa saat lalu terjadi di ‘kampung’ saya, bersamaan dengan peristiwa pemboman NATO di Libya yang akhirnya ‘berhasil’ membunuh putra Presiden Ghadafi dan ketiga cucunya. Kedua peristiwa yang terjadi bersamaan sedikit mengusik saya tentang hawa-hawa militer atau politik yang terlibat. Bedanya, yang satu bertaraf internasional dan menjadi isu penting dunia, sementara yang lain hanyalah politik ‘kampung’ tapi tetap jadi isu yang bisa menjatuhkan nama baik seluruh warga kampung kalau tidak bisa diredam. Jadi, dalam artian sempit, keduanya merupakan isu penting (bagi saya).

Agak terusik ketika mendengar pasukan militer NATO mulai terjun ke Libya dan ‘ikut-ikut’an ke isu internal sebuah negara yang bahkan tidak menjadi negara anggota mereka. Libya bukan bagian dari NATO. Libya tidak ubahnya Indonesia 1998 yang ‘hanya’ sedang berjuang menuju era demokrasi yang lebih terbuka. Pada awalnya beberapa pembicaraan anggota dewan, pakar pertahanan dan keamanan, politisi, pengamat Libya, atau siapapun yang merasa mampu berkomentar tentang Libya, sebagian dari mereka menyamakan apa yang terjadi di Libya dengan apa yang terjadi di Indonesia tahun 1998. Mulai dari isu pelengseran kepala negara, keterbatasan demokratisasi di berbagai sektor, isu korupsi-kolusi-nepotisme yang serupa, dan isu kemanusiaan lain yang secara tidak langsung pasti dikait-kaitkan. Tapi menjadi berbeda karena campur tangan pasukan militer yang mengatas namakan demi kemanusiaan dan perdamaian. Untungnya (ahhh Jawa sekali saya masih untung), Indonesia kala itu belum melibatkan dunia seperti United Nation (UN) atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun ASEAN sebagai asosiasi negara-negara regional Asia Tenggara. Untungnya, Indonesia masih bisa mengatasi permasalahannya sendiri meskipun hingga sekarang isu kemanusiaan yang muncul akibat masuknya gerakan militer tentara belum terselesaikan (semoga belum ada yang lupa akan peristiwa tewasnya beberapa mahasiswa trisakti dan semacamnya). Saya kurang paham juga peristiwa itu bisa mengartikan posisi Indonesia di mata dunia atau tidak. Dibayangan saya, seandainya saja ada campur tangan pasukan-pasukan militer perdamaian berskala dunia kala itu, alangkah hebatnya Indonesia sebagai negara yang masih berkembang dan saking pentingnya sampai-sampai harus ‘dibicarakan’ oleh seluruh dunia. Tapi disisi lain, tergelitik juga dengan pemikiran barangkali saking ngga penting nya Indonesia seakan-akan ‘disuruh’ menyelesaikan sendiri urusan internalnya. Atau, saking ‘hebat’nya Indonesia negara-negara tetangga menghormati Indonesia untuk membereskan apa yang terjadi dan mereka lebih memilih untuk menunggu dan mengamati. Dan masih banyak lagi spekulasi yang bisa muncul hanya dengan satu peristiwa. Itu kenapa saya tidak begitu suka dengan pendapat yang mengandalkan asumsi belaka. Maklum, didikan orang teknik pengaruh juga kali yah? Bertanya-tanya juga kenapa yah urusan Libya ini seluruh dunia jadi rempong ? Sampai-sampai pasukan militer NATO harus ikut embargo senjata, meminta UN untuk menerapkan no-fly zone di langit Libya, ikut-ikutan memaksa Presiden Ghadafi lengser, dan upaya terakhir yang dilakukan antara lain membekukan aset keluarga Ghadafi apapun caranya. Katanya siy, masyarakat anti Ghadafi yang meminta bantuan NATO. Ada juga yang bilang NATO turun tangan semata-mata karena melihat Ghadafi ini makhluk alot yang tidak mau diatur, ujung-ujungnya (lagi-lagi) mengatas namakan kemanusiaan karena Ghadafi secara terang-terangan pula bereaksi keras akan kelompok kontra.

Tinggalkan sejenak urusan NATO, Libya, dan Ghadafi. Kita beralih ke dalam negeri (diucapkan seperti para pembaca berita). Sebenarnya agak jauh juga yah membandingkan atau menganalogikan NATO dengan bapak-bapak polisi POLSEK. Karena memang tidak sebanding. Hanya saja kejadian beberapa hari yang lalu sedikit menggelitik saya sampai-sampai saya secara random menganalogikan keduanya. Berawal dari kisruh rumah tangga antara tetangga A dan tetangga B yang berlokasi di sisi lain ujung gang rumah dan berselisih kira-kira 10 rumah dari kediaman saya. Kejadian kisruh antar tetangga muncul karena rasa tidak terima kedua orang tua pemuda pemudi bertetangga yang saling jatuh cinta namun karena satu dan lain hal tidak bisa berlanjut. Cukup simpang siur mengenai kronologis kejadian siapa yang memulai terlebih dahulu dan apa penyebab pastinya. Ada yang bilang kisruh dimulai oleh orang tua pemudi (sebut saja Bunga) yang tidak terima perlakuan orang tua pihak pemuda yang mengirim makanan basi. Sama halnya dengan kebiasaan orang Jawa yang suka berkirim makanan antar tetangga, meskipun anak-anak mereka sudah tidak bersama sebagai tetangga yang akur mereka tetap menjalin hubungan yang baik. Hingga sebuah kejadian kalau boleh saya simpulkan hanya sebuah kesalah pahaman dan entah setan apa yang ikut memperkeruh keadaan. Berdasarkan cerita hansip keamanan gang rumah yang selalu berjaga malam setiap hari, tidak ada yang tahu kalau makanan itu basi. Semata-mata dikirimkan ke orang tua pemuda karena mereka kelebihan makanan. Tapi mengingat track record hubungan anak-anak mereka yang kandas tiba-tiba, ada sisi amarah orang tua pemudi yang tidak terima sehingga muncul pemikiran-pemikiran aneh yang kalau dipikir-pikir tidak masuk akal, mengingat seluruh penduduk di gang tempat saya tinggal paham akan hukum. Pertengkaran hebat malam hari tidak terhindarkan sampai-sampai Mama yang sedang pengajian di salah satu rumah tetangga yang berdekatan dengan rumah keduanya jadi shock melihatnya. Dan Mama yang memang tidak begitu suka gossip menahan diri mati-matian sepanjang pengajian untuk tidak terlalu berkomentar panjang lebar.

Semakin meruncing ketika secara tidak sengaja salah seorang anggota keluarga pihak pemudi menyerempet mobil anggota keluarga pemuda yang juga sama-sama diparkir di luar pagar rumah. Emosi menjadi, hingga pada titik tertentu salah satu pihak melaporkan kejadian tersebut ke Polsek terdekat. Sebagai orang-orang yang paham hukum, tetangga lain pun, kali ini melibatkan pihak bapak-bapak, menawarkan solusi perdamaian secara internal gang rumah. Malu rasanya kalau sampai harus melibatkan Ketua Rukun Tetangga (RT) atau ketua Rukun Warga (RW) yang berarti juga pasti akan tersebar ke warga gang lain. Akan jadi reputasi buruk yang selama ini sudah cukup baik dijaga oleh para tetua gang. Sayangnya, karena ego atau entah apa sebutannya, kedua belah pihak berseteru menolak ide perdamaian yang ditawarkan. Hingga pada akhirnya dengan terpaksa hansip keamanan meminta bantuan ketua RT untuk mengantarkan mereka ke Polsek. Lagi-lagi Papa sebagai salah satu warga terlama di gang rumah menolak menjadi mediator keduanya karena memang tidak melihat secara langsung kejadian, tidak terlibat, dan tidak punya kepentingan untuk campur tangan. Well done, dad. Dengan pertimbangan tawaran perdamaian antar warga saja sudah diabaikan, kenapa mesti repot jadi pihak mediator di kantor polisi? Sekalian saja bapak ibu polisi yang memediasi, begitu kata Papa. ”Biar sekalian kalau ada yang salah bisa langsung dilaporkan hehe” guyon Papa. Setelah beberapa jam perdebatan terjadi di kantor polisi, diputuskan bahwa persoalan ini masih belum perlu sampai pada pelibatan aparat penegak hukum, cukup diselesaikan antar warga dengan mediasi ketua RT atau ketua RW. Yahh … apa mau dikata, malu sudah terlanjur. Untungnya (lagi-lagi), pilihan bijaksana pak polisi lumayan bisa diterima kedua belah pihak yang berseteru, meski dengan yakin pun saya bisa katakan itu mustahil. 

Dengan modal otak pas-pasan dan waktu luang yang seluang-luangnya, sebuah analogi kacau muncul dari entah belahan otak saya yang sebelah mana. Kalau disebut datang dari bagian otak untuk menganalisa, apa  yang mau dianalisa? Bagian otak untuk berimajinasi mungkin? Atau belahan otak dengan saraf-saraf yang ngga connect sehingga loncatan-loncatan (impulse) listrik tidak terjadi sehingga analogi yang terjadi menjadi asal. Ahhh apa pula ini???!!! Saya menganalogikan NATO dengan bapak ibu polisi yang menengahi kejadian di kampung saya. Keduanya saya anggap mewakili pihak ‘berseragam’ sebagai jujugan (baca: tujuan) akhir setiap permasalahan yang terjadi, kecuali urusan kemunculan makhluk halus tak menapak tanah yah, itu larinya ke paranormal. Keduanya menjadi pilihan yang dirasa paling adil karena memiliki kekuatan hukum. NATO bereaksi terhadap Libya dengan dukungan UN untuk membantu warga negara Libya yang mulai terancam nyawa setiap malam oleh pemimpin mereka sendiri. Perlahan tapi pasti (layaknya SOP perang yang terdahulu), mau tidak mau, perang, bom, rudal, korban jiwa, dan kematian jadi alur pasti atas nama kemanusiaan. Tapi apa iya? Karena reaksi NATO yang ikut membalas gerakan Presiden Ghadafi juga menimbulkan korban rakyat jelata yang mungkin masih belum paham apa itu demokrasi. Coba saja dibayangkan, Ghadafi menimbulkan korban nyawa, begitu juga dengan NATO. Tidak satu, dua, atau tiga. Mungkin ribuan warga Libya. Lalu, bagaimana dengan isu ladang minyak di Libya yang sepertinya diperebutkan oleh seluruh negara-negara maju (anggota NATO) yang memang ‘miskin’ sumber daya alam ? Mungkin juga. Hey … business will be business. Tidak ada urusan dengan kemanusiaan, perdamaian, atau apapun dalihnya. Profit, profit, profit. Semua menjadi sah karena ada perlindungan hukum dan perundangan atas apa yang mereka lakukan. Perkara ada tunggangan politis, ekonomi, atau murni sosial kemanusiaan, hanya Tuhan dan mereka yang rempong yang tahu. Begitu juga dengan pilihan kantor Polsek untuk menyelesaikan permasalahan antar warga. Dirasa paling adil dan netral karena memang tidak ada celah mencari keuntungan materiil dari warga yang berseteru. Apalagi dengan alasan dan penyebab yang serba geje (baca: Gak Jelas). Tapi bukan juga berarti kepolisian kita sebegitu murninya (saya kira tidak perlu membahas beberapa kebobrokan aparat penegak hukum kita terkait urusan materiil). Hanya saja analogi pilihan pihak kantor polisi sebagai aparat berseragam untuk menyerahkan kembali ke warga untuk penyelesaian, saya angkat topi. Cukup bijaksana dan tidak terlalu memaksakan kehendak mereka sebagai aparat  yang sok ‘berkuasa’ memutuskan salah dan benar. Sehingga, memang tidak ada pihak yang diuntungkan. Lalu, bagaimana dengan NATO ? Saya bukan pakar dan tidak hendak menganalisa bagaimana posisi mereka. Sekali lagi maaf jika saya terlalu memojokkan salah satu pihak tanpa mengupas kepantasan Ghadafi untuk digulingkan. Karena saya memang tidak memiliki kapabilitas tinggi menilai seorang Ghadafi. Entah pilihan yang dilakukan sekarang ini merupakan pilihan yang bijaksana bagi Ghadafi atau bagi rakyatnya atau bagi dunia. Satu yang pasti, selalu ada motif dan harapan disetiap perang, dan (perang) tidak akan pernah menghasilkan pemenang karena dari kedua belah pihak pasti muncul korban. Pemenang sesungguhnya adalah ketika korban nyawa yang ditimbulkan adalah seminimal mungkin dan memilih opsi penyelesaian sebijaksana mungkin. Atau kedua tetangga yang berseteru juga sedang menunggu kesempatan berikutnya untuk menyulut kalimat perang, saya juga kurang tahu. Seingat saya dari cerita papa atau mama, yang pasti pak RT belum mengadakan pertemuan kembali untuk mendamaikan kedua belah pihak. Wallahua’lam …

Tulisan kali ini tidak untuk menganalisa pilihan-pilihan yang dipilih oleh dunia atau pihak-pihak tertentu. Hanya sebuah pertanyaan atas ketidak pahaman saya akan sesuatu yang bernama perang (baca: seteru). 

28 Apr 2011

RAMEN THING

Semuanya berawal dari penyakit musiman yang datang dikala antibody bekerja improperly. Flu. Penyakit yang tidak kenal usia, musim, atau apapun asal antibody tubuh tidak bisa lagi menahan serangan virus-virus menjadi sebuah penyakit ‘mematikan’. Mulai dari lemas, tidak bisa beraktivitas selayaknya orang sehat, merambat ke kepala, suhu tubuh, dan lain sebagainya. Obatnya cuma satu, eh dua dink, minum air putih sebanyak mungkin dan istirahat total. Itulah yang terjadi pada saya kira-kira sebulan yang lalu. Sebagai seorang yang belum bekerja jam normal, cukup aneh juga bisa kena bad flu. Suhu tubuh cukup tinggi, tenggorokan super duper sakit, dan 24 jam cuma bisa merem melek diatas tempat tidur. Mama jadi dokter dadakan cekokin saya air putih berliter-liter. Papa langsung freak jadi petugas fogging nyamuk takut-takut demam berdarah, tiap ujung kamar disemprot obat nyamuk sambil sedikit ngomel-ngomel. Sementara saya … memendam hasrat akan Mie Ramen. Hehehe …

Mungkin bukan hanya saya yang terkadang mengandalkan menu-menu makanan berkuah ala ramen, tomyam, laksa, atau semacamnya untuk penyeimbang kondisi tubuh yang sedang drop. Terbayang semangkuk besar mie ramen yang panas, disajikan ekstra pedas, plus teh hangat rempah, sepertinya bisa mengembalikan suhu tubuh ke derajat normal. Apa daya kondisi tubuh yang belum memungkinkan cuma bisa gigit jari, apalagi mengingat lokasi rumah yang dipinggir Kota Surabaya jauh dari segala tempat.

Setelah beberapa hari kemudian kondisi tubuh mulai normal, tidak salah rasanya saya harus berterima kasih dengan beberapa teman yang mengajak hangout secara mendadak di malam minggu. Meski tidak lama karena masih harus menjaga kondisi tubuh experience kali itu benar-benar membuat saya dan teman-teman agak sedikit terbengong-bengong, mengingat tempat makan yang kami tuju tidak jauh dari rumah masing-masing dari kami tinggal, dekat dengan sekolah kami, dan berjuta kali kami melewati lokasi itu tidak sekali pun kami semua perhatian kalau ada tempat makan enak!!! 

 
Depot Fujiya dan Café Rollaas, terletak didalam swalayan Papaya Jalan Raya Margorejo Indah,
ramen @ Fujiya
Surabaya. Yang kami tahu swalayan itu  memang ada sejak dulu. Tapi kami tidak pernah tahu kalau ada sebuah tempat makan didalamnya yang memang lumayan. Dan ketika membaca menu makanan yang disodorkan ternyata Japanese restaurant!!! Sama seperti dengan menu-menu restoran jepang yang lain, mulai dari sushi, udon, sampai ramen tersedia. Dan untuk mewujudkan cita-cita beberapa hari yang lalu akan mie ramen, walhasil malam itu tema kami berempat adalah Ramen time!!!!!!!!! Yippiiiii … Jujur saja kali ini saya benar-benar pas dengan rasa mie ramen  yang disajikan. Sebelumnya saya pernah mencoba mie ramen di tempat lain yang khusus menyajikan ramen, ramen yang disajikan di Fujiya ‘agak’ sedikit jauh dari rasa ramen resto-resto terkenal itu. Dari segi rasa jauh lebih sederhana, lebih Indonesia, tapi … dengan porsi mie yang wajar dan yang terpenting HALAL.
appetizer
 Kalau yang suka nge-ramen pasti paham ada kalanya ramen yang dihidangkan tidak halal atau bisa memilih daging halal. Untuk yang muslim taat, ada kalanya mempertimbangkan faktor peralatan dapur yang dipakai menjadi satu dengan masakan tidak halal. Itulah kenapa kadang kala saya dan teman-teman agak jarang menikmati menu makanan ini. Yang tidak kalah pentingnya adalah porsi mie yang disajikan di Fujiya sangat jumbo alias sesuai dengan ukuran mangkuk yang jumbo pula, melainkan sebagai ‘penghias’ karena porsi mie yang jauh lebih kecil seperti yang beberapa kali pernah saya temui. Jadi untuk yang lapar sekali, boleh mencoba menu ramen di Fujiya. Kali itu saya memesan menu ramen chicken crème (saya lupa nama lengkapnya), yang jelas ramen yang disajikan memiliki tekstur crème tidak terlalu kental, sayuran, daging ayam, dan beberapa potongan nori sebagai garnish yang tetap bisa dinikmati. Beberapa teman yang lain juga memesan ramen crème dengan pilihan daging yang lain dan lebih spicy. Suapan pertama … yummO!!! Suapan kedua … sedappp!!!! Suapan ketiga … slurrrppp!!! Suapan keempat … wow!!!! Dan seterusnya. Lebih spesial lagi ketika itu sedang ada promo “ramen free appetizer”. Pesan menu ramen apapun, gratis menu appetizer. Makanan penutup yang saya pilih kala itu semacan tofu goreng yang disajikan dengan kuah asin. Lagi-lagi maafkan saya karena lupa mencatat judul lengkap makanan yang saya pesan T.T . Rasa dari menu appetizer ini lumayan meskipun tidak terlalu spesial. Tofu khas jepang yang bertekstur lembut dengan lapisan luar hasil gorengan cukup enak untuk dinikmati. Atau mungkin juga karena terlalu kenyang dengan ramen, menu penutup ini jadi tidak terlalu menjadi fokus perhatian saya.


Tidak adil juga rasanya saya tidak menunjukkan minuman pilihan saya kala itu. Meski termasuk tempat makan yang menyajikan makanan jepang, ternyata Fujiya juga menjadi satu dengan café 
black south asia tea
Rollaas yang menyajikan menu khusus pilihan minuman. Barangkali ada yang pernah mendengar kopi atau teh merk Rollaas tidak heran, karena semua minuman kopi dan teh di kafe ini juga menyajikan produk-produk mereka. Based on saran dari mas waiters karena saya sedang bad flu dan ingin yang hangat-hangat, pilihan pun jatuh pada teh rempah (aduhhh lupa lagi nama menunya!!!) yang kalau saya tidak salah tertulis “black tea south asia”. Teh disajikan di pot yang berbeda, plus rempah-rempah yang saya sendiri kurang paham apa racikannya, tapi memang ampuh melegakan hidung yang mampet. Saya tidak begitu menyimak detil untuk menu-menu café rollaas tapi yang jelas everything worth to try.

Last but not least, urusan harga semua harga sebanding dengan rasanya. For food or drink. Kalau dirasa agak sedikit mahal, mungkin juga. Relatif. Tergantung kantong masing-masing. Tapi menurut saya semua standar harga kafe atau resto dengan rasa makanan dan minuman yang pas, bukan pas-pas an. Once again, berikut saya sertakan peta lokasi Fujiya dan café rollaas.

20 Apr 2011

SEMANGGI SUROBOYO

Akhirnyaaaa!!!!!! Setelah bertahun-tahun beredar kesana kemari, hari ini menjadi hari yang spesial. Ibu Semanggi lewatttt depan rumah!!!!!!!!!!!!! Hehehehe.

Sebetulnya sih agak lebay soal semanggi thing hari ini, mengingat setiap minggu Ibu semanggi juga pasti lewat gang rumah di Surabaya. Saya-nya saja yang jarang-jarang perhatian sama makanan yang satu ini. Setelah upload beberapa foto tentang makanan yang satu ini lewat twitter, ternyata ada beberapa pertanyaan terkait makanan langka yang satu ini. Baru sadar juga kalau makanan khas Kota Surabaya ini benar-benar langka. Kelangkaannya mengalahi keberadaan makanan Lontong Balap yang juga di-klaim masyarakat Surabaya sebagai khas-nya Kota Surabaya. Tapi nasib si Lontong Balap jauh lebih beruntung ketimbang si Semanggi. Di pasar belakang rumah juga masih ada beberapa gerobak Lontong Balap yang stand by setiap harinya. Untuk sebagai pilihan culinary destination di Kota Surabaya bahkan ada spot khusus penjual Lontong Balap yang berjajar disepanjang jalan, tepatnya di Jalan Kranggan Kota Surabaya. Bisa tinggal pilih mana tenda penjual Lontong Balap yang kosong, meskipun jarang-jarang juga yang kosong melompong saking banyaknya orang yang cinta maupun sekedar mencoba rasa Lontong Balap. Tapi cukup berbeda kalau membicarakan tentang Semanggi.

IMG00401-20110420-1152Semanggi sebenarnya termasuk dalam jenis rumput yang biasanya bisa kita temukan di area persawahan yang (mungkin) hanya ada di daerah Propinsi Jawa Timur. Kurang paham juga bagaimana dengan persawahan di luar Pulau Jawa apakah ada atau tidak. Karena makanan ini hanya ada di daerah Jawa Timur. Mungkin juga ditemukan pertama kali di Kota Surabaya sehingga mendapat julukan Semanggi Surabaya yang juga dilagukan dengan judul yang sama. Berdasarkan hasil riset instan di Wikipedia, makanan semanggi dimasak dengan cara mengukus daun semanggi kemudian dihidangkan dengan bumbu semacam bumbu kacang untuk pecel atau gado-gado, hanya berbeda racikannya. Bumbu makanan ini ada kandungan gula jawa dan bumbu-bumbu dasar kacang Indonesia yang lain. Agak susah untuk browse resep bumbu kacang untuk Semanggi. Dan setiap beli Semanggi selalu lupa tanya ke Ibu penjual. Setau saya bumbu kacang itu bentuknya padatan seperti bumbu pecel sebelum dilarutkan ke air. Jadi, si Ibu biasanya meracik dulu bumbu kacang dengan air kemudian baru meracik daun semanggi keatas piring dengan tambahan kecambah. Setelah bumbu kacang disiram ke racikan daun semanggi dan kecambah, kerupu uli jadi sentuhan terakhir dari hidangan Semanggi Surabaya. That’s it!! Untuk memakannya pun tidak memerlukan tambahan nasi atau lontong. Ibarat kata, makan Semanggi sama dengan makan rumput hehehe. Satu hal lagi, setiap menikmati makanan ini saya tidak pernah menggunakan sendok atau garpu, melainkan menggunakan potongan kerupuk uli sebagai sendok. Sedikit gambaran rasa, daun semanggi bertekstur mirip daun singkong meskipun terlihat seperti sayuran kangkung dalam kondisi basah (baca: terkukus). Untuk bumbunya memang terasa tekstur kacang, tapi entah ada tambahan bahan lain yang membuat bumbu kacang ini terasa lebih kental dan tidak seencer bumbu kacang gado-gado atau pecel. Soal harga, Ibu semanggi yang lewat depan rumah hanya mematok 5.000 rupiah sepiring dan 1.000 rupiah untuk tambahan kerupuk uli.

Semanggi Surabaya

Satu hal yang membuat saya salut dengan Ibu penjual Semanggi ini adalah beliau pada usia rentanya tidak pernah sekalipun tidak lewat gang kami di hari Rabu sekitar pukul 10 – 11 pagi. Dan itu selalu, mulai dari saya masih kecil hingga sekarang. Kalau saya tidak salah ingat, dulu selalu ada besek (baca: keranjang anyaman bambu) yang di-sunggi (baca: diletakkan diatas kepala), besek yang digendong, dan keranjang plastik yang ditenteng. Mungkin semakin renta usia beliau, keranjang anyaman berisi sepanci besar daun semanggi, sepanci besar bumbu kacang kering dan sekantong besar krupuk uli, hanya digendong menggunakan kain. Sedangkan, keranjang plastik yang ditenteng berisi beberapa botol air mineral, kain serbet, dan beberapa keperluan berjualan. Entah bagaimana dengan daerah lain di Kota Surabaya, tapi sepemahaman saya penjual makanan ini sudah tidak banyak lagi. Maklum … Kota Surabaya adalah kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta dan luasan lahan sawah Kota Surabaya semakin berkurang. Semakin tidak terbayang setiap tahunnya mungkin Ibu penjual Semanggi terancam secara finansiil karena berkurangnya ‘ladang’ daun semanggi di Surabaya.

Screen_20110420_125755Sekedar info tambahan untuk culinary destination makanan ini berdasarkan twit balasan dari @PakBondan (siapa yang tidak kenal beliau hehe), spot wisata kuliner semanggi bisa ditemui di Jalan Dempo Kota Surabaya. Jujur saja saya sendiri belum pernah kesana. Kalau berdasar cerita teman yang memang pernah kesana, (lagi-lagi) penjual semanggi Jalan Dempo juga sebenarnya bukan pemilik warung sesungguhnya, melainkan beliau ‘menumpang’ pada depot atau warung makan disebuah rumah yang juga membuka menu lain. Rasa semanggi yang dihidangkan juga cukup enak. Semoga saya bisa segera kesana untuk mencoba. Jadi, bagi yang memang belum pernah makan mungkin juga harus extra usaha mencari makanan ini. Referensi Pak Bondan dan teman saya mungkin bisa jadi masukan.

del.icio.us Tags: