Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan

11 Nov 2012

Suddenly ... berasa tua!!!

Benar-benar awkward moment ketika kita pergi ke suatu tempat hangout lalu ditengah-tengah keramaian kita tiba-tiba merasa kalau kita not belong on there. Pernah ngerasa gitu ngga? I did.

Semalam akibat harus ngejalan-jalanin temen-temen dari Malang abis kondangan temen kita juga di Surabaya, as usual, sesi hangout diteruskan. Secara jarang-jarang mereka ke Surabaya apalagi hangout di kota ini. Termasuk gw yang anak rumahan (cieee ... ) yang bisa dibilang hampir ngga pernah keluar malem. Kalaupun keliaran malam-malam bisa diyakinkan itu akibat lembur kerjaan hehehe. Atas usulan si teman, kita pergi ke sebuah kafe di daerah tengah kota yang gw sendiri sebenarnya ngga asing sama tempat itu. Beberapa kali jujur aja gw penasaran sama tempat itu dan udah masuk list one day mau nyobain kesana. Oya, sebelumnya definisi kafe disini bukan tempat dugem yah ... semacam tempat untuk ngopi, cemil-cemil cantik, dan ngobrol. Beberapa kali sempat browse tempat ini apa yang dibayangan gw siy oke lah. Cocok sama tipikal 'my people' dan kebiasaan ngobrol kita tiap hangout. Salah satu unspoken rule gw dan gank adalah cozy place yang bisa dibuat berlama-lama ngobrol. Akan tetapi ... engingeng ... apa yang ada didepan mata bukan seperti apa yang dibayangan gw. Tapi ngeliat temen-temen gw yang no problem, gw ngikut aja.

Kafe dimana-mana begitu rasanya. Sesuai judulnya, akan ada musik ala dj hingar bingar yang diputar kencang-kencang, smoking area yang jauh lebih leluasa didalam bangunan, dan penuh orang. Mungkin karena malam minggu pula tempat ini jadi benar-benar lagi hips. Gw ngga mau bilang gw ngga rekomendasi tempat ini. Untuk beberapa orang, gw mungkin bisa rekomendasi tempat ini. Tapi mungkin tidak begitu gw saranin tempat ini kalau memang yang dicari adalah tempat tenang untuk ngobrol. Yang lucu lagi, gw tiba-tiba ... merasa tua di tengah-tengah hingar bingar semalam!!! Hahaha. Dan sepakat dengan temen gw yang sudah emak-emak alias punya bontot. Ngerasa tempat ini bukan our kind of places. Bisa paham kalau si teman ngerasa gitu, karena singkat kata bisa dibilang tempat hangout-nya sekarang kalau ngga supermarket cari pampers atau susu bayi ya mentok dokter anak. Hahaha. Kita sempet ketawa ngebahas that kind of feeling. Gw juga jadi ngerasa konyol malem minggu ke tempat semacam itu dan gw ngga nemuin klik kalau itu kind of my place. Get what i mean 'kan?  Sementara pengunjung lain tipikal anak gaul atau anak nongkrong, gw bener-bener berasa tua-nya. Hahaha. Pengen ngakak gw kalau inget kejadian semalem. Atau gw kali yah dasanya ngga gaul jadi berasa awkward sama suasana hingar bingar. But in some moment, itu bukan gw. 

Sekali lagi gw ngga bakal bilang gw ngga rekomendasi tempat itu, hanya saja untuk beberapa hal kudu dipertimbangkan untuk dateng ke tempat ini. Yang jelas, bukan tempat ngobrol yang nyaman (menurut gw) karena asap rokok dimana-mana bikin mata pedes, musik dj yang hingar bingar (untuk gw, agak ngga bisa nikmatin this kind of music), dan tempatnya yang ramai banget. Kalaupun ngga pakai musik mungkin tetep harus ngomong teriak-teriak saking ramainya karena antara satu table ke table yang lain lumayan mepet. Mmmm ... gw jadi mikir, terus kalau ngga cocok buat ngobrol niy tempat cocok buat apa ya? Oya, sisha di tempat ini lumayan laris. Mungkin cocok buat yang mau 'nyisha' bareng gank. Atau kalau mau ngobrol dan ngga mau kena asap rokok, pilih aja table outdoor yang lumayan nyaman. Tapi ini Surabaya bung!!! Tiap orang punya matahari sendiri-sendiri yang sampai malam hari pun berasa 'sumuk' (baca: gerah) - nya. Serba salah yah. Heheh. Bisa gw rekomendasi tempat ini kalau doyan nonton bareng, entah bola, moto gp, atau race sport semacamnya. Tempat ini punya big screen yang all the time muterin pertandingan-pertandingan semacam itu. Bisa-bisa kudu berebut table paling depan big screen kalau lagi ada pertandingan besar. Kalau boleh gw sebut nama tempatnya, Matchbox too cafe. Lokasinya ada di Jalan Jawa Surabaya. Ini tempat kedua dari Matchbox Cafe. Kapan-kapan gw coba yang matchbox pertama. Mungkin lebih cocok karena katanya konsepnya outdoor. Sekali lagi gw ngga bermaksud ngga rekomendasi tempat ini. Dari segi makanan atau minuman yang disajikan oke kok. Kopi yang disajikan juga bener-bener kopi instead of kopi 'cantik' asal-asalan. Untuk urusan tempat, cozy enough tapi itu tadi, kalau pengen ngobrol santai dan ngga pakai perang urat maaf banget gw ngga rekomendasi. Ini sih urusan personal aja karena buat gw kalau pengen ngobrol ya kudu tempat yang tenang dan ngga begitu ramai, jadinya ngomong ngga pakai teriak-teriak. Mungkin ada waktu-waktu khusus yang bisa di rekomendasi pemilik kafe biar pengunjung ala saya ini bisa nyaman, silahkan monggo dikomen post kali ini. Selebihnya, kalau memang masih merasa mampu dan bisa ngobrol dengan suasana hiruk pikuk begitu bolehlah dicoba. Service, oke kok. Tanggap darurat lapar singkat kata hahaha.

Terus terang Kota Surabaya urusan tempat nongkrong harus gw akuin kalah sama Kota Malang. Gw ngga bakal bilang Kota Malang yang sekarang yah. Kota Malang era gw dulu (eh cieee ... masih dua tahun lalu gw terakhir eksis di sono), tempat ngopi atau nongkrong cukup warung kopi atau tenda STMJ pinggir jalan disekitar kampus gw yang bisa bejibun ramainya. Tapi itu tadi karena outdoor, hawa Kota Malang yang adem, meski ramai tapi kita bisa ngobrol ngga pakai urat, murah meriah, dan untuk beberapa momen khusus big screen dadakan siap sedia bikin tempat nongkrong di Kota Malang lebih seru ketimbang di Surabaya. Mungkin karena di Kota Malang mayoritas didominasi anak kuliahan jadi kotanya berasa lebih seru ketimbang Surabaya yang kesannya kota pekerja. Kadang gw dan beberapa teman yang pernah hidup di Malang suka kebingungan cari tempat nongkrong seru yang ngga harus 'ngafe' tapi cozy enough. Ujung-ujungnya mall, kafe, atau tempat yang takes cost. Apalagi Kota Malang yang sekarang, jauh lebih ramai dan banyak tempat baru tonkrongan anak muda tapi ngga bikin kita berasa tua. Gw tiba-tiba kangen sama Kota Malang. Tujuh tahun gw 'gede' di sana. Jelas leave something in me, meski kejadian terakhir bikin gw males ke Malang yah. Tapi beyond all that, gw pengen bisa spend waktu, santai-santai cantik di Malang. Eh kok jadi melankolis gini gw!!!! Mungkin juga karena abis ketemu temen lama dari Malang kali yak semalem, yang bisa dibilang mungkin dua tahun lalu terakhir ketemu, dan semakin sedih sekalinya kumpul cuma itu-itu aja yang bisa dan semakin berkurang jumlahnya. Paham sih karena mungkin udah pada rumah tangga, tinggal diluar kota, dan lain sebagainya. That is why i hate the goodbye.

Ahhh ... ngelantur kemana-mana niy post. Udah ahh ... enjoy all people!!!!!! :) 

8 Feb 2012

(KLA) PROJECT AS ME TIME

Kali ini tidak banyak yang mau di-share. Cuma beberapa foto selama konser Kla Project yang itu pun dengan sangat terpaksa diambil dari jarak yang cukup jauh. As you know, bulan Februari bulannya cinta-cintaan (kata orang!!). Jadi jangan heran kalau bakal banyak event musik yang sok romantis diadakan disekitar anda-anda semua. Mengawali bulan Februari (atau pre March saya biasa menyebutnya), Surabaya punya acara ini. Romantic Groovy Night. Raisa, Java Jive, dan Kla Project jadi suguhannya. Sebuah ide mendadak untuk escape dari hiruk pikuk orang-orang disekitar yang selama bulan Januari bikin nyesek. Meski diputuskan secara mendadak menerima tawaran tiket masuk konser dari seorang teman dengan harga yang lumayan sedikit lebih murah dari harga normalnya, I must say … saya tidak menyesal sama sekali. Jalanan Surabaya yang like hell di akhir minggu alias malam minggu, tanpa kendaraan pribadi (baca : Alfonzo) yang biasa jadi partner kesana kemari karena dibajak bokap, tidak mengurangi sedikit pun hasrat untuk mencari me time yang agak berbeda yang biasa saya lakukan. Dan diakhir konser, Kla Project does a legend and will be a memorable moment for me. Konser pertama setelah terakhir kali nonton konser di jaman sekolah hampir 10 tahun yang lalu. Dengan kelas konser yang sesuai dengan usia saya. Akhir kata, must say … Raisa, jangan neko-neko yah bakal jadi artis besar dia. Great voice missy!!! Java Jive, masih tetap hits kok meski masih dengan lagu lama. Last but not least, Kla Project … AWESOME!!!!! Wajar kalau barangkali ‘harga’ mereka mahal. Konsep acara pun tersampaikan dengan baik. Romantis, grande, dan … menggelegarrrrrrr!!!!!!!!!!

IMG-20120204-00087IMG-20120204-00095IMG-20120204-00102IMG-20120204-00104IMG-20120204-00107IMG-20120204-00109IMG-20120204-00111IMG-20120204-00112

(kejauhan duduknya … jadi berasa nonton semut)

22 Mei 2011

ME TIME : Toko Buku


Library Cafe - Gramex, Surabaya
Secara judul post kedua tentang 'Me Time' kali ini, rasanya tidak perlu panjang lebar dijelaskan apa yang selanjutnya terjadi. Toko buku. Sebut saja beberapa merk atau nama toko buku di Indonesia, tempat yang satu ini memang paling membuat betah untuk ukuran penikmat karya tulisan semacam saya. Kalau dibayangkan saya punya banyak uang untuk membeli beberapa buku, maka anda salah. Hehehe. Saya adalah salah satu model penikmat karya tulis yang agak licik. Rela menempuh puluhan kilo menuju toko buku hanya untuk membaca. Ritual yang biasa saya lakukan di toko buku umumnya diawali dengan melakukan screening buku terbaru atau biasa yang disebut dengan new release. Buku-buku ini biasanya terpajang pada meja pajang dekat pintu masuk toko buku. Tapi sekali lagi, saya adalah contoh pembaca yang punya kebiasaan aneh. Bukannya dengan segera membaca sinopsis atau ringkasan cerita buku-buku terbaru, saya justru segera meninggalkan meja pajang terdepan tersebut dan memulai ritual selanjutnya, berkeliling dari ujung hingga ujung toko buku. Bukan tidak mungkin saya bersedia berdiri selama beberapa menit di setiap rak dan meja pajang hanya untuk sekedar membaca singkat ringkasan cerita yang terdapat pada bagian belakang buku. Jadi jangan heran kalau mendapati saya bisa berjam-jam berada di toko buku. Bagian prosesi di toko buku yang paling membahagiakan saya adalah ketika menemukan buku bagus pada rak terpencil, terbelakang, terujung, paling atas, dan tersembunyi.

Saya percaya pada prinsip don't judge book by its expiration. Buku lama cetakan terakhir dengan kondisi mulai berubah warna kekuningan, dan beraroma lapuk, tidak menjamin keusangan jalan cerita yang tidak sesuai dengan kondisi saat ini alias basi. Beberapa buku dengan tema atau jalan cerita tertentu ada kalanya memang terasa kukona-annya sehingga membuat orang malas untuk membaca pada era yang berbeda. Namun, sebaliknya, pada beberapa buku tertentu, semakin usang justru semakin menarik dan diburu. Bukan sekali atau dua kali saya menjadi book hunter dan mendapati saya tidak mendapatkan apa-apa atau bertangan kosong saking usangnya buku itu. Buku usang yang pertama saya baca berjudul Zoya, kalau tidak salah. Saya harus berterima kasih pada guru Bahasa Indonesia jaman saya SMU, Pak Suparta, yang rajin membuat anak muridnya kebingungan dengan tugas-tugas kesastraan yang agak ajaib untuk ukuran era kala itu. Perlu juga berterima kasih pada Mira Lesmana, Rudi Sudjarwo, Dian Sastrowardoyo, Nicholas Syahputra yang bersamaan dengan tugas-tugas sekolah Pak Parta, begitu kami biasa menyapa beliau, muncul dengan kutipan-kutipan puisi karya Chairil Anwar, berjudul Aku, dan menjadi tren ABG ketika itu, dan membuat Pak Parta menjadi. Tuntutan tugas membacakan sebuah karya puisi didepan siswa kelas lain, termasuk dihadapan kakak-kakak kelas yang aduhai membuat bulu kuduk berdiri, membuat kami semua harus menyatroni Gramedia, toko buku bekas, dan perpustakaan umum kota hanya untuk memperoleh sebuah karya puisi yang paling pas menurut kita, karena tuntutan Pak Parta yang tidak membolehkan kami mengambil karya puisi yang sama. Dan di perpustakaan umum kota Surabaya itulah mata saya terpaku pada Zoya. Novel romansa berlatar situasi kehidupan awal abad 19 yang entah salah atau sengaja diletakkan asal pada rak yang tidak seharusnya oleh pembaca sebelumnya, tepat diantara tumpukan buku-buku karya sastra Indonesia angkatan 60. Pengalaman kali pertama yang membuat saya jatuh cinta pada karya-karya usang. Dan semenjak itu kebiasaan mencari buku-buku pada rak tersembunyi muncul.

28 Apr 2011

RAMEN THING

Semuanya berawal dari penyakit musiman yang datang dikala antibody bekerja improperly. Flu. Penyakit yang tidak kenal usia, musim, atau apapun asal antibody tubuh tidak bisa lagi menahan serangan virus-virus menjadi sebuah penyakit ‘mematikan’. Mulai dari lemas, tidak bisa beraktivitas selayaknya orang sehat, merambat ke kepala, suhu tubuh, dan lain sebagainya. Obatnya cuma satu, eh dua dink, minum air putih sebanyak mungkin dan istirahat total. Itulah yang terjadi pada saya kira-kira sebulan yang lalu. Sebagai seorang yang belum bekerja jam normal, cukup aneh juga bisa kena bad flu. Suhu tubuh cukup tinggi, tenggorokan super duper sakit, dan 24 jam cuma bisa merem melek diatas tempat tidur. Mama jadi dokter dadakan cekokin saya air putih berliter-liter. Papa langsung freak jadi petugas fogging nyamuk takut-takut demam berdarah, tiap ujung kamar disemprot obat nyamuk sambil sedikit ngomel-ngomel. Sementara saya … memendam hasrat akan Mie Ramen. Hehehe …

Mungkin bukan hanya saya yang terkadang mengandalkan menu-menu makanan berkuah ala ramen, tomyam, laksa, atau semacamnya untuk penyeimbang kondisi tubuh yang sedang drop. Terbayang semangkuk besar mie ramen yang panas, disajikan ekstra pedas, plus teh hangat rempah, sepertinya bisa mengembalikan suhu tubuh ke derajat normal. Apa daya kondisi tubuh yang belum memungkinkan cuma bisa gigit jari, apalagi mengingat lokasi rumah yang dipinggir Kota Surabaya jauh dari segala tempat.

Setelah beberapa hari kemudian kondisi tubuh mulai normal, tidak salah rasanya saya harus berterima kasih dengan beberapa teman yang mengajak hangout secara mendadak di malam minggu. Meski tidak lama karena masih harus menjaga kondisi tubuh experience kali itu benar-benar membuat saya dan teman-teman agak sedikit terbengong-bengong, mengingat tempat makan yang kami tuju tidak jauh dari rumah masing-masing dari kami tinggal, dekat dengan sekolah kami, dan berjuta kali kami melewati lokasi itu tidak sekali pun kami semua perhatian kalau ada tempat makan enak!!! 

 
Depot Fujiya dan Café Rollaas, terletak didalam swalayan Papaya Jalan Raya Margorejo Indah,
ramen @ Fujiya
Surabaya. Yang kami tahu swalayan itu  memang ada sejak dulu. Tapi kami tidak pernah tahu kalau ada sebuah tempat makan didalamnya yang memang lumayan. Dan ketika membaca menu makanan yang disodorkan ternyata Japanese restaurant!!! Sama seperti dengan menu-menu restoran jepang yang lain, mulai dari sushi, udon, sampai ramen tersedia. Dan untuk mewujudkan cita-cita beberapa hari yang lalu akan mie ramen, walhasil malam itu tema kami berempat adalah Ramen time!!!!!!!!! Yippiiiii … Jujur saja kali ini saya benar-benar pas dengan rasa mie ramen  yang disajikan. Sebelumnya saya pernah mencoba mie ramen di tempat lain yang khusus menyajikan ramen, ramen yang disajikan di Fujiya ‘agak’ sedikit jauh dari rasa ramen resto-resto terkenal itu. Dari segi rasa jauh lebih sederhana, lebih Indonesia, tapi … dengan porsi mie yang wajar dan yang terpenting HALAL.
appetizer
 Kalau yang suka nge-ramen pasti paham ada kalanya ramen yang dihidangkan tidak halal atau bisa memilih daging halal. Untuk yang muslim taat, ada kalanya mempertimbangkan faktor peralatan dapur yang dipakai menjadi satu dengan masakan tidak halal. Itulah kenapa kadang kala saya dan teman-teman agak jarang menikmati menu makanan ini. Yang tidak kalah pentingnya adalah porsi mie yang disajikan di Fujiya sangat jumbo alias sesuai dengan ukuran mangkuk yang jumbo pula, melainkan sebagai ‘penghias’ karena porsi mie yang jauh lebih kecil seperti yang beberapa kali pernah saya temui. Jadi untuk yang lapar sekali, boleh mencoba menu ramen di Fujiya. Kali itu saya memesan menu ramen chicken crème (saya lupa nama lengkapnya), yang jelas ramen yang disajikan memiliki tekstur crème tidak terlalu kental, sayuran, daging ayam, dan beberapa potongan nori sebagai garnish yang tetap bisa dinikmati. Beberapa teman yang lain juga memesan ramen crème dengan pilihan daging yang lain dan lebih spicy. Suapan pertama … yummO!!! Suapan kedua … sedappp!!!! Suapan ketiga … slurrrppp!!! Suapan keempat … wow!!!! Dan seterusnya. Lebih spesial lagi ketika itu sedang ada promo “ramen free appetizer”. Pesan menu ramen apapun, gratis menu appetizer. Makanan penutup yang saya pilih kala itu semacan tofu goreng yang disajikan dengan kuah asin. Lagi-lagi maafkan saya karena lupa mencatat judul lengkap makanan yang saya pesan T.T . Rasa dari menu appetizer ini lumayan meskipun tidak terlalu spesial. Tofu khas jepang yang bertekstur lembut dengan lapisan luar hasil gorengan cukup enak untuk dinikmati. Atau mungkin juga karena terlalu kenyang dengan ramen, menu penutup ini jadi tidak terlalu menjadi fokus perhatian saya.


Tidak adil juga rasanya saya tidak menunjukkan minuman pilihan saya kala itu. Meski termasuk tempat makan yang menyajikan makanan jepang, ternyata Fujiya juga menjadi satu dengan café 
black south asia tea
Rollaas yang menyajikan menu khusus pilihan minuman. Barangkali ada yang pernah mendengar kopi atau teh merk Rollaas tidak heran, karena semua minuman kopi dan teh di kafe ini juga menyajikan produk-produk mereka. Based on saran dari mas waiters karena saya sedang bad flu dan ingin yang hangat-hangat, pilihan pun jatuh pada teh rempah (aduhhh lupa lagi nama menunya!!!) yang kalau saya tidak salah tertulis “black tea south asia”. Teh disajikan di pot yang berbeda, plus rempah-rempah yang saya sendiri kurang paham apa racikannya, tapi memang ampuh melegakan hidung yang mampet. Saya tidak begitu menyimak detil untuk menu-menu café rollaas tapi yang jelas everything worth to try.

Last but not least, urusan harga semua harga sebanding dengan rasanya. For food or drink. Kalau dirasa agak sedikit mahal, mungkin juga. Relatif. Tergantung kantong masing-masing. Tapi menurut saya semua standar harga kafe atau resto dengan rasa makanan dan minuman yang pas, bukan pas-pas an. Once again, berikut saya sertakan peta lokasi Fujiya dan café rollaas.

20 Apr 2011

SEMANGGI SUROBOYO

Akhirnyaaaa!!!!!! Setelah bertahun-tahun beredar kesana kemari, hari ini menjadi hari yang spesial. Ibu Semanggi lewatttt depan rumah!!!!!!!!!!!!! Hehehehe.

Sebetulnya sih agak lebay soal semanggi thing hari ini, mengingat setiap minggu Ibu semanggi juga pasti lewat gang rumah di Surabaya. Saya-nya saja yang jarang-jarang perhatian sama makanan yang satu ini. Setelah upload beberapa foto tentang makanan yang satu ini lewat twitter, ternyata ada beberapa pertanyaan terkait makanan langka yang satu ini. Baru sadar juga kalau makanan khas Kota Surabaya ini benar-benar langka. Kelangkaannya mengalahi keberadaan makanan Lontong Balap yang juga di-klaim masyarakat Surabaya sebagai khas-nya Kota Surabaya. Tapi nasib si Lontong Balap jauh lebih beruntung ketimbang si Semanggi. Di pasar belakang rumah juga masih ada beberapa gerobak Lontong Balap yang stand by setiap harinya. Untuk sebagai pilihan culinary destination di Kota Surabaya bahkan ada spot khusus penjual Lontong Balap yang berjajar disepanjang jalan, tepatnya di Jalan Kranggan Kota Surabaya. Bisa tinggal pilih mana tenda penjual Lontong Balap yang kosong, meskipun jarang-jarang juga yang kosong melompong saking banyaknya orang yang cinta maupun sekedar mencoba rasa Lontong Balap. Tapi cukup berbeda kalau membicarakan tentang Semanggi.

IMG00401-20110420-1152Semanggi sebenarnya termasuk dalam jenis rumput yang biasanya bisa kita temukan di area persawahan yang (mungkin) hanya ada di daerah Propinsi Jawa Timur. Kurang paham juga bagaimana dengan persawahan di luar Pulau Jawa apakah ada atau tidak. Karena makanan ini hanya ada di daerah Jawa Timur. Mungkin juga ditemukan pertama kali di Kota Surabaya sehingga mendapat julukan Semanggi Surabaya yang juga dilagukan dengan judul yang sama. Berdasarkan hasil riset instan di Wikipedia, makanan semanggi dimasak dengan cara mengukus daun semanggi kemudian dihidangkan dengan bumbu semacam bumbu kacang untuk pecel atau gado-gado, hanya berbeda racikannya. Bumbu makanan ini ada kandungan gula jawa dan bumbu-bumbu dasar kacang Indonesia yang lain. Agak susah untuk browse resep bumbu kacang untuk Semanggi. Dan setiap beli Semanggi selalu lupa tanya ke Ibu penjual. Setau saya bumbu kacang itu bentuknya padatan seperti bumbu pecel sebelum dilarutkan ke air. Jadi, si Ibu biasanya meracik dulu bumbu kacang dengan air kemudian baru meracik daun semanggi keatas piring dengan tambahan kecambah. Setelah bumbu kacang disiram ke racikan daun semanggi dan kecambah, kerupu uli jadi sentuhan terakhir dari hidangan Semanggi Surabaya. That’s it!! Untuk memakannya pun tidak memerlukan tambahan nasi atau lontong. Ibarat kata, makan Semanggi sama dengan makan rumput hehehe. Satu hal lagi, setiap menikmati makanan ini saya tidak pernah menggunakan sendok atau garpu, melainkan menggunakan potongan kerupuk uli sebagai sendok. Sedikit gambaran rasa, daun semanggi bertekstur mirip daun singkong meskipun terlihat seperti sayuran kangkung dalam kondisi basah (baca: terkukus). Untuk bumbunya memang terasa tekstur kacang, tapi entah ada tambahan bahan lain yang membuat bumbu kacang ini terasa lebih kental dan tidak seencer bumbu kacang gado-gado atau pecel. Soal harga, Ibu semanggi yang lewat depan rumah hanya mematok 5.000 rupiah sepiring dan 1.000 rupiah untuk tambahan kerupuk uli.

Semanggi Surabaya

Satu hal yang membuat saya salut dengan Ibu penjual Semanggi ini adalah beliau pada usia rentanya tidak pernah sekalipun tidak lewat gang kami di hari Rabu sekitar pukul 10 – 11 pagi. Dan itu selalu, mulai dari saya masih kecil hingga sekarang. Kalau saya tidak salah ingat, dulu selalu ada besek (baca: keranjang anyaman bambu) yang di-sunggi (baca: diletakkan diatas kepala), besek yang digendong, dan keranjang plastik yang ditenteng. Mungkin semakin renta usia beliau, keranjang anyaman berisi sepanci besar daun semanggi, sepanci besar bumbu kacang kering dan sekantong besar krupuk uli, hanya digendong menggunakan kain. Sedangkan, keranjang plastik yang ditenteng berisi beberapa botol air mineral, kain serbet, dan beberapa keperluan berjualan. Entah bagaimana dengan daerah lain di Kota Surabaya, tapi sepemahaman saya penjual makanan ini sudah tidak banyak lagi. Maklum … Kota Surabaya adalah kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta dan luasan lahan sawah Kota Surabaya semakin berkurang. Semakin tidak terbayang setiap tahunnya mungkin Ibu penjual Semanggi terancam secara finansiil karena berkurangnya ‘ladang’ daun semanggi di Surabaya.

Screen_20110420_125755Sekedar info tambahan untuk culinary destination makanan ini berdasarkan twit balasan dari @PakBondan (siapa yang tidak kenal beliau hehe), spot wisata kuliner semanggi bisa ditemui di Jalan Dempo Kota Surabaya. Jujur saja saya sendiri belum pernah kesana. Kalau berdasar cerita teman yang memang pernah kesana, (lagi-lagi) penjual semanggi Jalan Dempo juga sebenarnya bukan pemilik warung sesungguhnya, melainkan beliau ‘menumpang’ pada depot atau warung makan disebuah rumah yang juga membuka menu lain. Rasa semanggi yang dihidangkan juga cukup enak. Semoga saya bisa segera kesana untuk mencoba. Jadi, bagi yang memang belum pernah makan mungkin juga harus extra usaha mencari makanan ini. Referensi Pak Bondan dan teman saya mungkin bisa jadi masukan.

del.icio.us Tags:

15 Feb 2011

FISH THING FISH

hehehehehe …
Sebenarnya kejadiannya sudah beberapa waktu yang lalu. Tapi baru sempet ditulis sekarang. Kalau yang sempat baca post sebelumnya (read 'Fish Hater’), maka post kali ini bisa dibilang kelanjutan ‘first thing’ moment yang saling terkait.

Di post sebelumnya, i had told all of you kalau saya tidak bisa makan ikan, karena satu dan lain hal. Dan saya ternyata mengalahkan ‘ketidak bisaan’ saya yang satu itu. hihihhihi. Untuk pertama kalinya … jeng jeng … i ate fish!!!! *banana dance. Berawal dari hangout bersama dGoss seperti biasa di weekend day, dan mereka memutuskan untuk makan sushi. Tidak berusaha untuk menyalahkan mereka karena (barangkali) lupa kalau saya tidak makan ikan dan sebangsanya. Well, sebenarnya ini kali ketiga saya ‘terpaksa’ menelan ikan-ikan itu T.T . Dan ketiga kalinya orang-orang disekitar saya lupa kalau saya tidak bisa memakan ikan. Kali ini saya tidak tega untuk membuyarkan bayangan sushi yang sudah melayang-melayang di pikiran teman-teman. Dan akhirnya dengan berpasrah diri saya pun mempositifkan diri sendiri dan menarik nafas dalam-dalam, berkata kalau segalanya akan baik-baik saja.

19 Jul 2010

HERITAGE THEME


actually, it was a small and short trip from me and friends. jarang-jarang kita bertiga lagi punya ide ngga biasa bikin holiday trip dengan tema HERITAGE. secaraaaaaaaa … tiap kali weekend atau ada waktu buat hangout bareng ujung-ujungnya nge-mall. maklum … rada ngeblank kalau soal tempat tujuan hangout happening di Kota Surabaya [yess … we are Bonekers!!] gara-gara predikat anak rumahan. hehehe.
Dua minggu lalu, three of us memang pas banget punya waktu buat hangout bareng. dan karena kebosanan liat mall di Surabaya yang memang itu-itu dan begitu-begitu saja, tersiratlah tujuan weekend destination yang ngga biasa. sebagai BONEKERS atau warga Surabaya asli, pengetahuan soal tempat-tempat historis alias bersejarah di Surabaya kita minim banget. kita cuma tau kalau Surabaya juga punya kota lama seperti kota lama yang ada di Jakarta, yang kelihatan dari bentuk bangunan dan suasana kawasan yang koloni banget. that’s it! embarassing ‘kan? main atau hangout ke kawasan bersejarah itu pun jarang dan cenderung ngga pernah. maklum, tempat tinggal kita yang di bagian selatan Surabaya, kawasan pertokoan yang pas di tengah Kota Surabaya jauh lebih terjangkau dari segi waktu, tenaga, dan akomodasi perjalanan.