11 Nov 2012
Suddenly ... berasa tua!!!
Semalam akibat harus ngejalan-jalanin temen-temen dari Malang abis kondangan temen kita juga di Surabaya, as usual, sesi hangout diteruskan. Secara jarang-jarang mereka ke Surabaya apalagi hangout di kota ini. Termasuk gw yang anak rumahan (cieee ... ) yang bisa dibilang hampir ngga pernah keluar malem. Kalaupun keliaran malam-malam bisa diyakinkan itu akibat lembur kerjaan hehehe. Atas usulan si teman, kita pergi ke sebuah kafe di daerah tengah kota yang gw sendiri sebenarnya ngga asing sama tempat itu. Beberapa kali jujur aja gw penasaran sama tempat itu dan udah masuk list one day mau nyobain kesana. Oya, sebelumnya definisi kafe disini bukan tempat dugem yah ... semacam tempat untuk ngopi, cemil-cemil cantik, dan ngobrol. Beberapa kali sempat browse tempat ini apa yang dibayangan gw siy oke lah. Cocok sama tipikal 'my people' dan kebiasaan ngobrol kita tiap hangout. Salah satu unspoken rule gw dan gank adalah cozy place yang bisa dibuat berlama-lama ngobrol. Akan tetapi ... engingeng ... apa yang ada didepan mata bukan seperti apa yang dibayangan gw. Tapi ngeliat temen-temen gw yang no problem, gw ngikut aja.
Kafe dimana-mana begitu rasanya. Sesuai judulnya, akan ada musik ala dj hingar bingar yang diputar kencang-kencang, smoking area yang jauh lebih leluasa didalam bangunan, dan penuh orang. Mungkin karena malam minggu pula tempat ini jadi benar-benar lagi hips. Gw ngga mau bilang gw ngga rekomendasi tempat ini. Untuk beberapa orang, gw mungkin bisa rekomendasi tempat ini. Tapi mungkin tidak begitu gw saranin tempat ini kalau memang yang dicari adalah tempat tenang untuk ngobrol. Yang lucu lagi, gw tiba-tiba ... merasa tua di tengah-tengah hingar bingar semalam!!! Hahaha. Dan sepakat dengan temen gw yang sudah emak-emak alias punya bontot. Ngerasa tempat ini bukan our kind of places. Bisa paham kalau si teman ngerasa gitu, karena singkat kata bisa dibilang tempat hangout-nya sekarang kalau ngga supermarket cari pampers atau susu bayi ya mentok dokter anak. Hahaha. Kita sempet ketawa ngebahas that kind of feeling. Gw juga jadi ngerasa konyol malem minggu ke tempat semacam itu dan gw ngga nemuin klik kalau itu kind of my place. Get what i mean 'kan? Sementara pengunjung lain tipikal anak gaul atau anak nongkrong, gw bener-bener berasa tua-nya. Hahaha. Pengen ngakak gw kalau inget kejadian semalem. Atau gw kali yah dasanya ngga gaul jadi berasa awkward sama suasana hingar bingar. But in some moment, itu bukan gw.
Sekali lagi gw ngga bakal bilang gw ngga rekomendasi tempat itu, hanya saja untuk beberapa hal kudu dipertimbangkan untuk dateng ke tempat ini. Yang jelas, bukan tempat ngobrol yang nyaman (menurut gw) karena asap rokok dimana-mana bikin mata pedes, musik dj yang hingar bingar (untuk gw, agak ngga bisa nikmatin this kind of music), dan tempatnya yang ramai banget. Kalaupun ngga pakai musik mungkin tetep harus ngomong teriak-teriak saking ramainya karena antara satu table ke table yang lain lumayan mepet. Mmmm ... gw jadi mikir, terus kalau ngga cocok buat ngobrol niy tempat cocok buat apa ya? Oya, sisha di tempat ini lumayan laris. Mungkin cocok buat yang mau 'nyisha' bareng gank. Atau kalau mau ngobrol dan ngga mau kena asap rokok, pilih aja table outdoor yang lumayan nyaman. Tapi ini Surabaya bung!!! Tiap orang punya matahari sendiri-sendiri yang sampai malam hari pun berasa 'sumuk' (baca: gerah) - nya. Serba salah yah. Heheh. Bisa gw rekomendasi tempat ini kalau doyan nonton bareng, entah bola, moto gp, atau race sport semacamnya. Tempat ini punya big screen yang all the time muterin pertandingan-pertandingan semacam itu. Bisa-bisa kudu berebut table paling depan big screen kalau lagi ada pertandingan besar. Kalau boleh gw sebut nama tempatnya, Matchbox too cafe. Lokasinya ada di Jalan Jawa Surabaya. Ini tempat kedua dari Matchbox Cafe. Kapan-kapan gw coba yang matchbox pertama. Mungkin lebih cocok karena katanya konsepnya outdoor. Sekali lagi gw ngga bermaksud ngga rekomendasi tempat ini. Dari segi makanan atau minuman yang disajikan oke kok. Kopi yang disajikan juga bener-bener kopi instead of kopi 'cantik' asal-asalan. Untuk urusan tempat, cozy enough tapi itu tadi, kalau pengen ngobrol santai dan ngga pakai perang urat maaf banget gw ngga rekomendasi. Ini sih urusan personal aja karena buat gw kalau pengen ngobrol ya kudu tempat yang tenang dan ngga begitu ramai, jadinya ngomong ngga pakai teriak-teriak. Mungkin ada waktu-waktu khusus yang bisa di rekomendasi pemilik kafe biar pengunjung ala saya ini bisa nyaman, silahkan monggo dikomen post kali ini. Selebihnya, kalau memang masih merasa mampu dan bisa ngobrol dengan suasana hiruk pikuk begitu bolehlah dicoba. Service, oke kok. Tanggap darurat lapar singkat kata hahaha.
Terus terang Kota Surabaya urusan tempat nongkrong harus gw akuin kalah sama Kota Malang. Gw ngga bakal bilang Kota Malang yang sekarang yah. Kota Malang era gw dulu (eh cieee ... masih dua tahun lalu gw terakhir eksis di sono), tempat ngopi atau nongkrong cukup warung kopi atau tenda STMJ pinggir jalan disekitar kampus gw yang bisa bejibun ramainya. Tapi itu tadi karena outdoor, hawa Kota Malang yang adem, meski ramai tapi kita bisa ngobrol ngga pakai urat, murah meriah, dan untuk beberapa momen khusus big screen dadakan siap sedia bikin tempat nongkrong di Kota Malang lebih seru ketimbang di Surabaya. Mungkin karena di Kota Malang mayoritas didominasi anak kuliahan jadi kotanya berasa lebih seru ketimbang Surabaya yang kesannya kota pekerja. Kadang gw dan beberapa teman yang pernah hidup di Malang suka kebingungan cari tempat nongkrong seru yang ngga harus 'ngafe' tapi cozy enough. Ujung-ujungnya mall, kafe, atau tempat yang takes cost. Apalagi Kota Malang yang sekarang, jauh lebih ramai dan banyak tempat baru tonkrongan anak muda tapi ngga bikin kita berasa tua. Gw tiba-tiba kangen sama Kota Malang. Tujuh tahun gw 'gede' di sana. Jelas leave something in me, meski kejadian terakhir bikin gw males ke Malang yah. Tapi beyond all that, gw pengen bisa spend waktu, santai-santai cantik di Malang. Eh kok jadi melankolis gini gw!!!! Mungkin juga karena abis ketemu temen lama dari Malang kali yak semalem, yang bisa dibilang mungkin dua tahun lalu terakhir ketemu, dan semakin sedih sekalinya kumpul cuma itu-itu aja yang bisa dan semakin berkurang jumlahnya. Paham sih karena mungkin udah pada rumah tangga, tinggal diluar kota, dan lain sebagainya. That is why i hate the goodbye.
Ahhh ... ngelantur kemana-mana niy post. Udah ahh ... enjoy all people!!!!!! :)
8 Feb 2012
(KLA) PROJECT AS ME TIME
Kali ini tidak banyak yang mau di-share. Cuma beberapa foto selama konser Kla Project yang itu pun dengan sangat terpaksa diambil dari jarak yang cukup jauh. As you know, bulan Februari bulannya cinta-cintaan (kata orang!!). Jadi jangan heran kalau bakal banyak event musik yang sok romantis diadakan disekitar anda-anda semua. Mengawali bulan Februari (atau pre March saya biasa menyebutnya), Surabaya punya acara ini. Romantic Groovy Night. Raisa, Java Jive, dan Kla Project jadi suguhannya. Sebuah ide mendadak untuk escape dari hiruk pikuk orang-orang disekitar yang selama bulan Januari bikin nyesek. Meski diputuskan secara mendadak menerima tawaran tiket masuk konser dari seorang teman dengan harga yang lumayan sedikit lebih murah dari harga normalnya, I must say … saya tidak menyesal sama sekali. Jalanan Surabaya yang like hell di akhir minggu alias malam minggu, tanpa kendaraan pribadi (baca : Alfonzo) yang biasa jadi partner kesana kemari karena dibajak bokap, tidak mengurangi sedikit pun hasrat untuk mencari me time yang agak berbeda yang biasa saya lakukan. Dan diakhir konser, Kla Project does a legend and will be a memorable moment for me. Konser pertama setelah terakhir kali nonton konser di jaman sekolah hampir 10 tahun yang lalu. Dengan kelas konser yang sesuai dengan usia saya. Akhir kata, must say … Raisa, jangan neko-neko yah bakal jadi artis besar dia. Great voice missy!!! Java Jive, masih tetap hits kok meski masih dengan lagu lama. Last but not least, Kla Project … AWESOME!!!!! Wajar kalau barangkali ‘harga’ mereka mahal. Konsep acara pun tersampaikan dengan baik. Romantis, grande, dan … menggelegarrrrrrr!!!!!!!!!!
(kejauhan duduknya … jadi berasa nonton semut)
22 Mei 2011
ME TIME : Toko Buku
| Library Cafe - Gramex, Surabaya |
Saya percaya pada prinsip don't judge book by its expiration. Buku lama cetakan terakhir dengan kondisi mulai berubah warna kekuningan, dan beraroma lapuk, tidak menjamin keusangan jalan cerita yang tidak sesuai dengan kondisi saat ini alias basi. Beberapa buku dengan tema atau jalan cerita tertentu ada kalanya memang terasa kukona-annya sehingga membuat orang malas untuk membaca pada era yang berbeda. Namun, sebaliknya, pada beberapa buku tertentu, semakin usang justru semakin menarik dan diburu. Bukan sekali atau dua kali saya menjadi book hunter dan mendapati saya tidak mendapatkan apa-apa atau bertangan kosong saking usangnya buku itu. Buku usang yang pertama saya baca berjudul Zoya, kalau tidak salah. Saya harus berterima kasih pada guru Bahasa Indonesia jaman saya SMU, Pak Suparta, yang rajin membuat anak muridnya kebingungan dengan tugas-tugas kesastraan yang agak ajaib untuk ukuran era kala itu. Perlu juga berterima kasih pada Mira Lesmana, Rudi Sudjarwo, Dian Sastrowardoyo, Nicholas Syahputra yang bersamaan dengan tugas-tugas sekolah Pak Parta, begitu kami biasa menyapa beliau, muncul dengan kutipan-kutipan puisi karya Chairil Anwar, berjudul Aku, dan menjadi tren ABG ketika itu, dan membuat Pak Parta menjadi. Tuntutan tugas membacakan sebuah karya puisi didepan siswa kelas lain, termasuk dihadapan kakak-kakak kelas yang aduhai membuat bulu kuduk berdiri, membuat kami semua harus menyatroni Gramedia, toko buku bekas, dan perpustakaan umum kota hanya untuk memperoleh sebuah karya puisi yang paling pas menurut kita, karena tuntutan Pak Parta yang tidak membolehkan kami mengambil karya puisi yang sama. Dan di perpustakaan umum kota Surabaya itulah mata saya terpaku pada Zoya. Novel romansa berlatar situasi kehidupan awal abad 19 yang entah salah atau sengaja diletakkan asal pada rak yang tidak seharusnya oleh pembaca sebelumnya, tepat diantara tumpukan buku-buku karya sastra Indonesia angkatan 60. Pengalaman kali pertama yang membuat saya jatuh cinta pada karya-karya usang. Dan semenjak itu kebiasaan mencari buku-buku pada rak tersembunyi muncul.
28 Apr 2011
RAMEN THING
Mungkin bukan hanya saya yang terkadang mengandalkan menu-menu makanan berkuah ala ramen, tomyam, laksa, atau semacamnya untuk penyeimbang kondisi tubuh yang sedang drop. Terbayang semangkuk besar mie ramen yang panas, disajikan ekstra pedas, plus teh hangat rempah, sepertinya bisa mengembalikan suhu tubuh ke derajat normal. Apa daya kondisi tubuh yang belum memungkinkan cuma bisa gigit jari, apalagi mengingat lokasi rumah yang dipinggir Kota Surabaya jauh dari segala tempat.
Setelah beberapa hari kemudian kondisi tubuh mulai normal, tidak salah rasanya saya harus berterima kasih dengan beberapa teman yang mengajak hangout secara mendadak di malam minggu. Meski tidak lama karena masih harus menjaga kondisi tubuh experience kali itu benar-benar membuat saya dan teman-teman agak sedikit terbengong-bengong, mengingat tempat makan yang kami tuju tidak jauh dari rumah masing-masing dari kami tinggal, dekat dengan sekolah kami, dan berjuta kali kami melewati lokasi itu tidak sekali pun kami semua perhatian kalau ada tempat makan enak!!!
![]() |
| ramen @ Fujiya |
![]() |
| appetizer |
Tidak adil juga rasanya saya tidak menunjukkan minuman pilihan saya kala itu. Meski termasuk tempat makan yang menyajikan makanan jepang, ternyata Fujiya juga menjadi satu dengan café
![]() |
| black south asia tea |
Last but not least, urusan harga semua harga sebanding dengan rasanya. For food or drink. Kalau dirasa agak sedikit mahal, mungkin juga. Relatif. Tergantung kantong masing-masing. Tapi menurut saya semua standar harga kafe atau resto dengan rasa makanan dan minuman yang pas, bukan pas-pas an. Once again, berikut saya sertakan peta lokasi Fujiya dan café rollaas.

20 Apr 2011
SEMANGGI SUROBOYO
Akhirnyaaaa!!!!!! Setelah bertahun-tahun beredar kesana kemari, hari ini menjadi hari yang spesial. Ibu Semanggi lewatttt depan rumah!!!!!!!!!!!!! Hehehehe.
Sebetulnya sih agak lebay soal semanggi thing hari ini, mengingat setiap minggu Ibu semanggi juga pasti lewat gang rumah di Surabaya. Saya-nya saja yang jarang-jarang perhatian sama makanan yang satu ini. Setelah upload beberapa foto tentang makanan yang satu ini lewat twitter, ternyata ada beberapa pertanyaan terkait makanan langka yang satu ini. Baru sadar juga kalau makanan khas Kota Surabaya ini benar-benar langka. Kelangkaannya mengalahi keberadaan makanan Lontong Balap yang juga di-klaim masyarakat Surabaya sebagai khas-nya Kota Surabaya. Tapi nasib si Lontong Balap jauh lebih beruntung ketimbang si Semanggi. Di pasar belakang rumah juga masih ada beberapa gerobak Lontong Balap yang stand by setiap harinya. Untuk sebagai pilihan culinary destination di Kota Surabaya bahkan ada spot khusus penjual Lontong Balap yang berjajar disepanjang jalan, tepatnya di Jalan Kranggan Kota Surabaya. Bisa tinggal pilih mana tenda penjual Lontong Balap yang kosong, meskipun jarang-jarang juga yang kosong melompong saking banyaknya orang yang cinta maupun sekedar mencoba rasa Lontong Balap. Tapi cukup berbeda kalau membicarakan tentang Semanggi.
Semanggi sebenarnya termasuk dalam jenis rumput yang biasanya bisa kita temukan di area persawahan yang (mungkin) hanya ada di daerah Propinsi Jawa Timur. Kurang paham juga bagaimana dengan persawahan di luar Pulau Jawa apakah ada atau tidak. Karena makanan ini hanya ada di daerah Jawa Timur. Mungkin juga ditemukan pertama kali di Kota Surabaya sehingga mendapat julukan Semanggi Surabaya yang juga dilagukan dengan judul yang sama. Berdasarkan hasil riset instan di Wikipedia, makanan semanggi dimasak dengan cara mengukus daun semanggi kemudian dihidangkan dengan bumbu semacam bumbu kacang untuk pecel atau gado-gado, hanya berbeda racikannya. Bumbu makanan ini ada kandungan gula jawa dan bumbu-bumbu dasar kacang Indonesia yang lain. Agak susah untuk browse resep bumbu kacang untuk Semanggi. Dan setiap beli Semanggi selalu lupa tanya ke Ibu penjual. Setau saya bumbu kacang itu bentuknya padatan seperti bumbu pecel sebelum dilarutkan ke air. Jadi, si Ibu biasanya meracik dulu bumbu kacang dengan air kemudian baru meracik daun semanggi keatas piring dengan tambahan kecambah. Setelah bumbu kacang disiram ke racikan daun semanggi dan kecambah, kerupu uli jadi sentuhan terakhir dari hidangan Semanggi Surabaya. That’s it!! Untuk memakannya pun tidak memerlukan tambahan nasi atau lontong. Ibarat kata, makan Semanggi sama dengan makan rumput hehehe. Satu hal lagi, setiap menikmati makanan ini saya tidak pernah menggunakan sendok atau garpu, melainkan menggunakan potongan kerupuk uli sebagai sendok. Sedikit gambaran rasa, daun semanggi bertekstur mirip daun singkong meskipun terlihat seperti sayuran kangkung dalam kondisi basah (baca: terkukus). Untuk bumbunya memang terasa tekstur kacang, tapi entah ada tambahan bahan lain yang membuat bumbu kacang ini terasa lebih kental dan tidak seencer bumbu kacang gado-gado atau pecel. Soal harga, Ibu semanggi yang lewat depan rumah hanya mematok 5.000 rupiah sepiring dan 1.000 rupiah untuk tambahan kerupuk uli.
Satu hal yang membuat saya salut dengan Ibu penjual Semanggi ini adalah beliau pada usia rentanya tidak pernah sekalipun tidak lewat gang kami di hari Rabu sekitar pukul 10 – 11 pagi. Dan itu selalu, mulai dari saya masih kecil hingga sekarang. Kalau saya tidak salah ingat, dulu selalu ada besek (baca: keranjang anyaman bambu) yang di-sunggi (baca: diletakkan diatas kepala), besek yang digendong, dan keranjang plastik yang ditenteng. Mungkin semakin renta usia beliau, keranjang anyaman berisi sepanci besar daun semanggi, sepanci besar bumbu kacang kering dan sekantong besar krupuk uli, hanya digendong menggunakan kain. Sedangkan, keranjang plastik yang ditenteng berisi beberapa botol air mineral, kain serbet, dan beberapa keperluan berjualan. Entah bagaimana dengan daerah lain di Kota Surabaya, tapi sepemahaman saya penjual makanan ini sudah tidak banyak lagi. Maklum … Kota Surabaya adalah kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta dan luasan lahan sawah Kota Surabaya semakin berkurang. Semakin tidak terbayang setiap tahunnya mungkin Ibu penjual Semanggi terancam secara finansiil karena berkurangnya ‘ladang’ daun semanggi di Surabaya.
Sekedar info tambahan untuk culinary destination makanan ini berdasarkan twit balasan dari @PakBondan (siapa yang tidak kenal beliau hehe), spot wisata kuliner semanggi bisa ditemui di Jalan Dempo Kota Surabaya. Jujur saja saya sendiri belum pernah kesana. Kalau berdasar cerita teman yang memang pernah kesana, (lagi-lagi) penjual semanggi Jalan Dempo juga sebenarnya bukan pemilik warung sesungguhnya, melainkan beliau ‘menumpang’ pada depot atau warung makan disebuah rumah yang juga membuka menu lain. Rasa semanggi yang dihidangkan juga cukup enak. Semoga saya bisa segera kesana untuk mencoba. Jadi, bagi yang memang belum pernah makan mungkin juga harus extra usaha mencari makanan ini. Referensi Pak Bondan dan teman saya mungkin bisa jadi masukan.



