“Selamat siang … bisa bicara dengan Ibu C*R*S*I**?”
Dan Saya, Papa, atau Mama selalu menjawab pertanyaan itu dengan kalimat, “Siang. Disini tidak ada yang namanya C*R*S*I**”. Karena memang itu yang sebenarnya. Atau terkadang kami bertiga menjawab dengan sedikit lebih panjang dengan kalimat,”Yang namanya C*R*S*I**sudah pindah setahun lalu”. Karena memang itu pula yang sebenarnya.
Kalimat berikutnya yang muncul dan selalu seperti itu,”Jadi ini bukan rumah Ibu C*R*S*I**?” Dan jawaban kami berikutnya yang akan selalu seperti itu,”Ya bukanlah!!! Ini rumah Bapak RH". C*R*S*I**itu dulu anak kos disini”. Seketika penelepon-penelepon itu mengucapkan terima kasih lalu menutup telepon. Tapi tidak jarang alias lebih seringnya yang melanjutkan pembicaraan dengan kalimat berikut,”Bener ya ini bukan rumahnya Ibu C*R*S*I**? Jangan bohong,”.
Mmmmm … pada kalimat itulah yang selalu menaikkan emosi kami bertiga PEMILIK RUMAH dan menaikkan nada suara yang semula normal.
***
C*R*S*I**. Semenjak kepindahannya hampir setahun yang lalu dari kediaman kami karena dia memang tinggal di kediaman kami sebagai anak kost, nama itu selalu menjadi target pencarian beberapa pihak bank. Apalagi kalau bukan urusan aplikasi kartu kredit dan penagihan tunggakan kredit. Bukan sekali atau dua kali beberapa bank yang ‘menyatroni’ rumah kami, sampai-sampai bisa saya katakan,”Niy telepon rumah dipasang cuma buat ngladenin si C*R*S*I** niy …” yang cuma bisa disambut getir oleh Papa atau Mama. Tapi memang begitu rasanya saking seringnya.
