17 Feb 2011

C*R*S*I** …

Telepon rumah berdering. Pertanda sesuatu atau seseorang yang penting diseberang sana, mengingat seisi rumah ini lebih terbiasa menyebarkan nomer handphone ketimbang nomer telepon rumah karena alasan mobilitas. Dan untuk kesekian kalinya sapaan pertama yang terdengar dari seberang adalah …

“Selamat siang … bisa bicara dengan Ibu C*R*S*I**?”

Dan Saya, Papa, atau Mama selalu menjawab pertanyaan itu dengan kalimat, “Siang. Disini tidak ada yang namanya C*R*S*I**”. Karena memang itu yang sebenarnya. Atau terkadang kami bertiga menjawab dengan sedikit lebih panjang dengan kalimat,”Yang namanya C*R*S*I**sudah pindah setahun lalu”. Karena memang itu pula yang sebenarnya.

Kalimat berikutnya yang muncul dan selalu seperti itu,”Jadi ini bukan rumah Ibu C*R*S*I**?” Dan jawaban kami berikutnya yang akan selalu seperti itu,”Ya bukanlah!!! Ini rumah Bapak RH". C*R*S*I**itu dulu anak kos disini”. Seketika penelepon-penelepon itu mengucapkan terima kasih lalu menutup telepon. Tapi tidak jarang alias lebih seringnya yang melanjutkan pembicaraan dengan kalimat berikut,”Bener ya ini bukan rumahnya Ibu C*R*S*I**? Jangan bohong,”.

Mmmmm … pada kalimat itulah yang selalu menaikkan emosi kami bertiga PEMILIK RUMAH dan menaikkan nada suara yang semula normal.
***
C*R*S*I**. Semenjak kepindahannya hampir setahun yang lalu dari kediaman kami karena dia memang tinggal di kediaman kami sebagai anak kost, nama itu selalu menjadi target pencarian beberapa pihak bank. Apalagi kalau bukan urusan aplikasi kartu kredit dan penagihan tunggakan kredit. Bukan sekali atau dua kali beberapa bank yang ‘menyatroni’ rumah kami, sampai-sampai bisa saya katakan,”Niy telepon rumah dipasang cuma buat ngladenin si C*R*S*I** niy …” yang cuma bisa disambut getir oleh Papa atau Mama. Tapi memang begitu rasanya saking seringnya.

15 Feb 2011

FISH THING FISH

hehehehehe …
Sebenarnya kejadiannya sudah beberapa waktu yang lalu. Tapi baru sempet ditulis sekarang. Kalau yang sempat baca post sebelumnya (read 'Fish Hater’), maka post kali ini bisa dibilang kelanjutan ‘first thing’ moment yang saling terkait.

Di post sebelumnya, i had told all of you kalau saya tidak bisa makan ikan, karena satu dan lain hal. Dan saya ternyata mengalahkan ‘ketidak bisaan’ saya yang satu itu. hihihhihi. Untuk pertama kalinya … jeng jeng … i ate fish!!!! *banana dance. Berawal dari hangout bersama dGoss seperti biasa di weekend day, dan mereka memutuskan untuk makan sushi. Tidak berusaha untuk menyalahkan mereka karena (barangkali) lupa kalau saya tidak makan ikan dan sebangsanya. Well, sebenarnya ini kali ketiga saya ‘terpaksa’ menelan ikan-ikan itu T.T . Dan ketiga kalinya orang-orang disekitar saya lupa kalau saya tidak bisa memakan ikan. Kali ini saya tidak tega untuk membuyarkan bayangan sushi yang sudah melayang-melayang di pikiran teman-teman. Dan akhirnya dengan berpasrah diri saya pun mempositifkan diri sendiri dan menarik nafas dalam-dalam, berkata kalau segalanya akan baik-baik saja.

Jakarta


Jakarta ...

Ibukota Indonesia dan sekaligus kota terbesar di Indonesia, terbesar dalam artian aktifitas perekonomiannya. Tempat dimana 'gula' menumpuk disana. Gula yang menarik 2 juta lebih manusia beraktifitas mengais rejeki setiap harinya. Sebuah tempat persinggahan segelintir orang untuk bekerja. Lihat saja setiap pagi (bahkan terlalu pagi untuk disebut pagi) dan sore hari. Pola pergerakan kehidupan bergerak begitu seragam datang dan pergi.

9 Feb 2011

Dear Laptopku tersayang …

Awal tahun 2011 yang bertolak belakang. Di satu sisi bahagia karena termin pekerjaan yang turun alias isi rekening tabungan full tank,tapi di sisi lain efek lupa mensedekahkan 2,5% darinya berdampak pada 'hilangnya' beberapa digit di saldo rekening tabungan.

Semua berawal karena si laptop yang cari gara-gara pake ngambek si layar. Tapi memang tidak sepenuhnya salah si laptop melainkan si pengguna yang me-romusha laptop bekerja 24/7. Laptop menunjukkan kengambekannya pada suatu ketika dengan sebuah 'kedipan' alias blink yang muncul ditengah-tengah pekerjaan. Awal kemunculannya tidak berlangsung lama. Cuma sekali kedip. Dg asumsi barangkali si laptop minta diistirahatkan, maka untuk sehari itu laptop pun berkondisi off. Berharap esok hari akan baik-baik saja.

Dan memang benar. Besoknya semua berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala. Tidak ada kedipan.

Tapi.... Kejadian 'kedipan' itu jadi sering muncul dalam waktu beberapa hari kemudian. Yang awalnya sehari sekali bisa beberapa kali kedipan/blink meski dalam sekali 'kedip' intensitas kedipan tidak terlalu banyak. Kalau  bahasa kerennya ‘flicker’. Karena intensitas yang semakin sering itu, bahkan sempat ‘black out’ sekali, masuklah si laptop tersayang ke tempat servis. Dan tidak hanya 1 tempat servis yang didatangi, melainkan 3 tempat servis, 2 orang teman yang memang paham urusan beginian untuk berkonsultasi, plussss … beberapa akses IT kantor teman-teman. Dan hasilnya, rata-rata jawaban mereka memang sama atau mirip. Ke-error-an laptop ada di kabel penghubung ke monitor (lupa namanya apa).

5 Feb 2011

No title (Meracau)

Saturday Night Fever....

Stand alone at here...

Missing you...

Watch the moon and...it's empty without you by my side

Are you remembering me out there, Love?
Can you see me, heart?
Could you stand on your own without me, dear?
It is irritating knowing you out of my reach...

Are you feel the same way?
It's fevering me tonight...
Hoping could see you in a moment...
Wish there's a milky way for me to fly into your arms...
Surrounded by stars and make a route for me to run to you...
Powered by Telkomsel BlackBerry®