8 Feb 2012

(KLA) PROJECT AS ME TIME

Kali ini tidak banyak yang mau di-share. Cuma beberapa foto selama konser Kla Project yang itu pun dengan sangat terpaksa diambil dari jarak yang cukup jauh. As you know, bulan Februari bulannya cinta-cintaan (kata orang!!). Jadi jangan heran kalau bakal banyak event musik yang sok romantis diadakan disekitar anda-anda semua. Mengawali bulan Februari (atau pre March saya biasa menyebutnya), Surabaya punya acara ini. Romantic Groovy Night. Raisa, Java Jive, dan Kla Project jadi suguhannya. Sebuah ide mendadak untuk escape dari hiruk pikuk orang-orang disekitar yang selama bulan Januari bikin nyesek. Meski diputuskan secara mendadak menerima tawaran tiket masuk konser dari seorang teman dengan harga yang lumayan sedikit lebih murah dari harga normalnya, I must say … saya tidak menyesal sama sekali. Jalanan Surabaya yang like hell di akhir minggu alias malam minggu, tanpa kendaraan pribadi (baca : Alfonzo) yang biasa jadi partner kesana kemari karena dibajak bokap, tidak mengurangi sedikit pun hasrat untuk mencari me time yang agak berbeda yang biasa saya lakukan. Dan diakhir konser, Kla Project does a legend and will be a memorable moment for me. Konser pertama setelah terakhir kali nonton konser di jaman sekolah hampir 10 tahun yang lalu. Dengan kelas konser yang sesuai dengan usia saya. Akhir kata, must say … Raisa, jangan neko-neko yah bakal jadi artis besar dia. Great voice missy!!! Java Jive, masih tetap hits kok meski masih dengan lagu lama. Last but not least, Kla Project … AWESOME!!!!! Wajar kalau barangkali ‘harga’ mereka mahal. Konsep acara pun tersampaikan dengan baik. Romantis, grande, dan … menggelegarrrrrrr!!!!!!!!!!

IMG-20120204-00087IMG-20120204-00095IMG-20120204-00102IMG-20120204-00104IMG-20120204-00107IMG-20120204-00109IMG-20120204-00111IMG-20120204-00112

(kejauhan duduknya … jadi berasa nonton semut)

16 Jan 2012

Saya Tidak Tahu …

Sebuah pertanyaan besar yang mendera pikiran ketika baru saja perintah Pak Kasubdiv kepada kami staf-staf nya untuk sesegera mungkin meninggalkan kantor.

Jarang-jarang bagi kami para staf di deputi kami yang bisa dengan mudah pulang ‘sore’ atau tenggo. Bukan maksud mereka menyandera tenaga, waktu, dan hari kami, melainkan memang begitu banyak hal yang harus dikerjakan sesegera mungkin.

Suasana kantor lumayan mencekam sejak pagi hari. Entah satu peleton atau apapun istilahnya polisi berjaga-jaga di sekitaran kantor. Kata teman-teman sekantor mau ada demonstrasi. Semenjak 2 bulan lalu ketika saya masuk dan bekerja di kantor ini, demonstrasi adalah hal yang cukup ‘biasa’. Sudah sering terjadi begitu kata senior-senior kantor. Selama 2 bulan itu juga sudah 3 kali isu demo merebak ke seluruh pegawai kantor. Sekali demo terlaksana tapi Alhamdulillah divisi kami sedang tidak ada dikantor. Sehingga tidak merasakan suasana demo oleh pihak-pihak yang menyerukan agar pihak terkait pada jajaran atas membubarkan kantor kami. Kali kedua, hanya sekedar isu. Berpuluh-puluh nasi bungkus disiapkan untuk bapak-bapak polisi yang berjaga namun entah kenapa demo gagal terjadi. Ketika itu suasana memang tidak terlalu mencekam. Hari ini adalah kali ketiga semenjak saya bekerja di kantor ini isu demo kembali muncul. Dan ini adalah kali pertama saya merasakan bagaimana seramnya suasana demonstrasi yang selalu dikhawatirkan Papa setiap kali melihat tayangan televisi yang meliput tentang aksi demo dimanapun itu.

Kabar pertama saya peroleh dari teman se-divisi yang meminta saya segera ke kantor karena kantor akan segera dipenuhi oleh pendemo yang berarti akan tertutup seluruh akses menuju kantor. Saya lumayan terlambat hari ini, tidak saya sengaja. Pertama kali sampai depan kantor, berpuluh-puluh polisi sudah berjaga didepan dan didalam halaman kantor. Bahkan terlihat beberapa ibu Polwan mengenakan rompi bertuliskan “Tim Negosiator”. Sebegitu seram ‘kah demo kali ini? Mungkin sekedar antisipasi. Sapaan ramah kepada bapak-bapak satpam/security kantor yang biasa saya lakukan, hanya dibalas dengan seruan “Parkir ujung, bu!!” tanpa senyuman yang biasa mereka lakukan juga. Demo kali ini memang seram sepertinya. Beberapa bapak-bapak polisi yang berjaga didalam halaman kantor pun semakin membuat suasana semakin seram. Ini memang seram.

Awal hari tidak ada situasi apapun yang signifikan mengubah ritme bekerja hari ini, kecuali suasana pendemo yang pada akhirnya muncul diluar kantor meneriakkan tuntutan mereka. Karena kami masih bekerja didalam kontainer akibat bangunan kantor yang masih direnovasi, seperti biasanya candaan riang teman-teman di kontainer yang suka saya sebut dengan kontainer “cerah ceria setiap hari indah selalu” membuat awal hari terlihat biasa saja. Normal. Demonstrasi pun terasa biasa saja. Hingga, jam makan siang dan sholat dhuhur tiba. Mendadak Pak Kasubdiv memerintahkan kami untuk segera berkemas mengingat situasi demonstrasi yang semakin memanas. FYI, demo dilakukan di 2 tempat. Kantor kami dan Kantor Gubernur, dengan tuntutan yang sama. Instruksi untuk berkemas meninggalkan kantor pun masih kami anggap santai ketika beberapa menit kemudian atasan tiba-tiba berseru,”Lho kok belum pulang?!”. Baiklah … ini memang mencekam. Saya dan teman-teman segera meninggalkan kantor dan menuju rumah masing-masing. Kantor terlihat mencekam dari kaca spion mobil saya. Sebuah doa tiba-tiba muncul, semoga kantor baik-baik saja.

Sampailah saya pada detik ini sejam setelah saya meninggalkan kantor, duduk di ujung tempat makan salah satu pusat perbelanjaan gadget yang tidak jauh dari rumah, mencari-cari update berita terakhir mengenai demo hari ini. Memang benar. Beberapa surat kabar elektronik menulis artikel singkat mengenai tuntutan para pendemo yang … saya suka kecut mendengarnya. Sedih. Dan berpikir suatu hal. Betapa bebasnya era sekarang.

Setiap orang bebas berbicara, bertindak, menilai orang lain, bercita-cita, bahkan untuk sesuatu hal yang tersimpan didalam pikiran pun tidak ada satu garis atau pagar yang membatasi. Semua bisa secara anarkis meneriakkan apa yang ada didalam pikiran.

Saya tidak bermaksud mengatakan apa yang menjadi tuntutan para pendemo adalah anarkis. Apa yang mereka lakukan anarkis. Atau bahkan apa yang mereka rasakan itu anarkis. Saya tidak tahu apa yang mereka rasakan atau inginkan sesungguhnya. Saya tidak mau mengotori pikiran saya sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sekali lagi saya baru 2 bulan terlibat di kantor ini dan pada posisi “tidak tahu apa-apa”. Yang saya tahu hanyalah bekerja sebaik mungkin, melakukan apa yang bisa saya lakukan, demi kebaikan semua pihak dan kepentingan. Dengan niat tulus, insyaallah. Dan mencoba menempatkan para pendemo itu pada posisi yang sama. MEnuntut sesuatu yang sebenarnya mereka sudah tidak cukup lagi bersabar, demi kebaikan pihak mereka, dan demi niat tulus mereka untuk kebaikan semua pihak.

Terkesan polos, naif, atau bahkan terlalu aman ngga sih cara berpikir saya, dengan mencoba melihat segala sesuatu dari segi positif? Saya tidak tahu.

Bagaimana jika saya menilai mereka anarkis karena merusak beberapa benda di jalanan ketika berdemo? Bagaimana jika mereka memang tidak tahu apa-apa tentang apa yang kami kerjakan, sistem yang berjalan, atau capaian yang sudah kami lakukan? Bagaimana jika mereka memang hanya orang bayaran yang … hanya mencari sesuap nasi dengan menjadi pelakon demonstrasi yang mungkin tidak paham apa yang mereka teriakkan? Bagaimana jika itu bentuk kekesalan mereka yang sudah diubun-ubun yang bahkan saya sendiri tidak tahu bagaimana rasanya? Atau … bagaimana jika saya tiba-tiba menjadi anarkis dengan bebasnya menilai mereka sebagai pihak yang salah/ngawur atau kami sebagai pihak yang benar?

Saya tidak tahu. Saya bahkan tidak tahu apa yang sedang saya ceritakan di post  ini.

Yang saya tahu (dan sebagaimana yang selalu diajarkan Papa dan Mama) hanyalah bagaimana caranya berusaha menjadi manusia yang sebaik-baiknya, bertindak sebaik mungkin, berucap sebenar-benarnya, merasakan dan berpikir setulus-tulusnya, semua demi kebaikan dunia, masyarakat, orang-orang di sekitar, dan bagi Tuhan Sang Pencipta.

Dan ketika situasi berbalik, paling tidak menurut saya, apa yang harus saya lakukan? Saya tidak tahu. Apa yang harus saya ucapkan? Saya tidak tahu. Bahkan saya tidak berani memikirkannya. Sekali saya menilai salah tindakan, ucapan, dan pikiran mereka, lalu … apa bedanya saya dengan mereka?

Pertanyaan berikutnya … lalu apakah kita diharuskan tidak berpikir, bertindak, dan berucap sesuatu karena ketidak tahuan kita? Saya tidak tahu. 

Ini doa saya hari ini …

image

Amien …

 

 

*dunkin donuts – Plaza Marina

9 Jan 2012

ANAK JALANAN

Anak jalanan kumbang metropolitan

Selalu ramai dalam kesepian

Anak jalanan korban kemunafikan

Selalu kesepian di keramaian

 

Tiada tempat untuk mengadu

tempat mencurahkan isi kalbu

Cinta kasih dari ayah dan ibu

Hanyalah perih yang palsu

 

Anak perawan kembang metropolitan

Selalu resah dalam penantian

Anak perawan korban keadaan

Selalu menanti dalam keresahan

 

Tiada restu untuk bertemu

Untuk menjalin hidup bersatu

Kasih sayang dari ayah dan bunda

Hanyalah adab semata

 

Anak gedongan lambang metropolitan

Menuntut hidup alam kedamaian

Anak gedongan korban kesibukan

Hidup gelisah dalam keramaian

 

Tiada waktu untuk bertemu

Waktu berkasihan dan mengadu

Karena orang tua metropolitan

Hanyalah budak kesibukan

 

Anak jalanan metropolitan …

Anak jalanan metropolitan …

Anak jalanan metropolitan …

 

 

~ artist : Chrisye … ~

*Seumur-umur denger lagu ini, baru kali ini memahami liriknya yang kena banget … plus … video klip versi Sandhy Shandoro yang asli … tipikal perkotaan di belahan dunia manapun. Dan merasa miris ketika keluar line “… budak kesibukan … “. Itu saya!!! Sok sibuk sejak pindah kerja di Surabaya …

17 Des 2011

How's life? : A Great Dream Came True named Banjarmasin

Itu yang selalu saya tanyakan kepada beberapa teman yang sudah lama tidak berkomunikasi. Selalu tentang hidup yang saya tanyakan. Bukan kabar mereka. Entah kenapa saya jauh lebih suka bertanya bagaimana hidup mereka selama kami tidak bersua atau berkomunikasi. Maklum ... teman saya tidak begitu banyak (i'm not a kind of person who have a lot of pals), jadi bisa dipastikan hubungan saya dengan teman-teman (akrab) adalah komunikasi sehari-hari bahkan dalam hitungan menit. Itu kenapa saya jadi lebih suka menanyakan bagaimana hidup mereka ketimbang kabar ketika ada menit yang terlewati antara kami.

So ... how's life people? Apa yang terjadi dengan hidup kalian? Hidup saya sedang seru!!! Lama tidak menulis blog ternyata jadi pengalaman seru juga bagaimana caranya merangkum hidup saya sejak tanggal terakhir saya posting tulisan dalam tulisan yang 'singkat'. Semoga memang bisa sesingkat mungkin saya bagi dengan kalian semua.

Generally, tahun 2011 adalah tahun seru sekaligus tahun egois bagi saya. Kenapa egois? Karena semua yang terjadi di hidup saya adalah pilihan saya, resiko saya, dan mimpi saya yang terwujud. Siapa yang mengira seorang Rika bisa juga jadi perantau seberang pulau dimana di 'kehidupan' saya sebelumnya (haiyah!!!) adalah seorang yang antipati dan beranggapan kalau untuk apa bekerja di pulau seberang yang tidak ada apa-apanya. Sebuah akibat sebagai pengangguran dan bosan menjadi freelance di kota besar, dan haus akan pengalaman hidup yang berbeda jadi alasan saya kenapa meng-iya-kan tawaran teman untuk bekerja di pulau seberang, meski saat itu masih bekerja di bidang yang sama ketika saya menjadi tenaga freelance. Dan anehnya, tidak ada satu pun yang saya khawatirkan ketika itu. Semua berjalan biasa saja, dan itu salah satu cara meyakinkan kedua orang tua yang khawatir dengan anak bungsu-nya merantau di pulau seberang.

Pulau Kalimantan. Siapa yang pernah mengira saya pernah menginjakkan kaki dan mengadu hidup di sebuah pulau yang kata dunia adalah salah satu paru-paru bumi karena luasan hutan yang lumayan menjadi hal besar di pulau ini? Intinya, ada kesalahpahaman gambaran yang orang-orang masukkan ke otak saya tentang pulau itu. Ini era 2000-an. Hey ... Kalimantan is not that bad kok!!!! Pengalaman 3 bulan yang remarkable dan bakal jadi bagian dari cerita saya ke anak cucu saya suatu hari, meski ketika tiba saatnya hanya akan menjadi cerita singkat atau bahkan sepintas lalu tentang bagaimana Kalimantan, Kota Banjarmasin tepatnya. 3 bulan bisa kenal orang-orang humble ala urang Banjar (baca : orang Banjar), bisa belajar bagaimana rasanya bekerja kantoran, dan siapa sangka ... karena Banjarmasin saya bisa menginjakkan kaki ke Kota Pontianak??!! So ... lumayan buat nambah-nambahin push-pin di peta Indonesia. Hehehe.

Kenapa cuma 3 bulan? Karena kota kelahiran 'memanggil' saya untuk mengabdi padanya (haiyah!!!). Kota Surabaya. Tempat dimana akan selalu jadi tujuan utama saya. Yess ... I'm a city girl now!!!! Berasa Carrie Bradshaw gitu nggak siy?? Jujur saja, saya tidak sebegitunya dan terobsesi menjadi tipikal pekerja ibukota atau kota besar. Mungkin bagian itu sudah diambil Kakak yang meniru jejak Mama. While saya ... diberi jalan untuk meniru jejak Papa yang memang juaranya kalau urusan dunia diluar sono. Ngga ada yang tahu 'kan kalau Papa sudah ngencingin Sabang sampai Merauke?? Kenapa ngencingin karena bisa saya yakin anda semua, setiap kali menginjakkan kaki disuatu tempat yang dicari si Papa pertama kali adalah toilet!!!! Buat pipis. Hehehe. Dan saya cukup bangga dengan diri sendiri yang bisa jadi breakthrough di keluarga besar sebagai salah satu keturunan perempuan yang bisa dan berani merantau (ilustrasi: sambil nge-list sepupu cewek,tante, keponakan cewek, eyang putri, budhe, yang pernah merantau. Dan tidak menemukan yang pernah merantau). Paling jauh itu pun Jakarta. Ahhh ... siapapun bisa, sanggup, mampu, atau cukup punya mental baja kalau soal ibukota negara yang satu itu. Tapi kalau seberang pulau??? Hayooo ... kalimat pertama yang muncul paling-paling,"Jauh banget kerjanya?! 'Kan kamu cewek?! Deket orang tua harusnya,". Suka heran sama celetukan yang ini. Om, Tante, Nyak, Babe, kalau memang dikasih rejekinya disono pigimane yee??? Kalau rejeki bisa "dipilih" pasti ane pilih rejeki Jakarta atau New York sekalian??!!. Berat kok buat saya si anak bungsu, andalan Papa, Mama, dan Kakak buat lucu-lucuan di rumah "keluar" dari rumah cuma buat sesuatu yang disebut rejeki. Tapi apa mau dikata, maksud hati memeluk hutan beton, apa daya tangan nyampe-nya di hutan Kalimantan sono.

Ada apa dengan banjarmasin, sampai-sampai saya sebut sebagai a great dream came true? Untuk kesekian kalinya harus saya jelaskan, hidup merantau itu seru lowh!! Bisa merantau ke suatu tempat yang tidak banyak jadi pilihan orang adalah sesuatu bagi saya. Dan akan selalu angkat topi, menunduk dalam-dalam kalau ada orang, perempuan terutama, yang bisa, mau, dan sanggup bertahan di seberang sana. Jadi, singkat kata ... a great dream came true.

Apa yang ada di Banjarmasin? Semua ada. You named it, Banjarmasin ngga jelek-jelek amat kok. Mall? Ada, meski cuma 1. Pizza Hut? Ada. Tempat salon atau spa? Ada. Barang merk luar negeri? Ada kok, meski memang tidak sebanyak di kota besar. Mobil mewah? Buanyakkk, apalagi kendaraan roda 2. Singkat kata, Banjarmasin itu kota. Jadi apa yang menjadi kriteria atau ciri kota bisa dipastikan ada disana. Hanya saja skala dari segi kuantitas dan kualitas tidak bisa dibandingkan dengan kota besar di Indonesia. Dan dengan segala "ke-minimalis-an"nya saya bisa hidup disana. Buktinya, ketika meninggalkan Banjarmasin saya menangis. Sedih harus berpisah dengan Pimpinan kantor yang sangat mengayomi bawahan, berpisah dengan rekan kerja yang sedikit tapi cukup akrab untuk saling membagi cerita hidup. Terutama sedih harus berpisah dengan orang-orang ramah yang kata kebanyakan sudah sulit untuk ditemui. You have to come to Banjarmasin to get one. Satu kata yang bisa saya simpulkan dari urang Banjar, ramah, baik, meski kalau bicara satu dengan lain seperti orang berantem. Mungkin faktor geografis kota yang "sejengkal" dengan garis khatulistiwa. Panas.

Saya kangen masa-masa mencari tiket mudik ketika lebaran atau tiket pulang kampung untuk mondar-mandir Surabaya-Banjarmasin atau sebaliknya. Saya kangen suasana bandara yang hectic dengan segala aktivitasnya. Saya kangen ketika harus kebosanan dengan makanan anak kos yang itu-itu saja -mengingat selama saya disana tidak ada kendaraan pribadi. Saya kangen dengan logat orang Banjar ketika berbicara. Saya kangen dengan tampilan makanan Banjarmasin yang full makhluk-makhluk dari jagad perairan -saya tidak suka dengan ikan atau sejenisnya. Saya kangen suasana pasar wadai (baca : pasar kue) selama bulan Ramadhan di tepi sungai Martapura. Saya kangen kesederhanaan hidup di Banjarmasin.

Saya kangen Banjarmasin.

(Ilustrasi : sambil ngebayangin malam minggu disana itu bingung mau kemana, kalau ga nge-mall naik angkot, tunggu jemputan bestie dan jadi Ali Topan dengan motornya, atau bengong di kost nonton tv kabel yang jadi fasilitas rumah kost disana)

 

To be continued ...